LAMPUNG POST | lampost.co logo
2017 10 April
2635
Kategori Feature
Penulis Agus Susanto
LAMPUNG POST | Mbah Darmi dan Beras Ngasak Penyambung Hidup
Darmi di depan rumahnya di Desa Labuhanratu Baru, Kecamatan Way Jepara, Lampung Timur, Minggu (9/4/2017). Darmi dan tujuh anggota keluarganya hidup di rumah sempit dan mengumpulkan padi dari ngasak untuk bertahan hidup. LAMPUNG POST/AGUS SUSANTO

Mbah Darmi dan Beras Ngasak Penyambung Hidup

KEDUA tangan wanita itu menyekap kedua kakinya yang ditekuk. Dengan duduk bersandar di dinding geribik rumahnya, Darmi (70) dengan sabar menghadap tungku yang menyala oleh kayu terbakar api yang lidahnya menjilat jilat periuk di atasnya. 

Darmi tinggal bersama tujuh anggota keluarganya, yang terdiri suami, anak, menantu, dan cucu. Di dalam rumah yang masih geribik dan sempit itu dihuni sedikitya delapan orang. Padat memang, tapi begitulah kehidupan keluarga papa itu sehari hari.

Darmi dan tujuh keluarga tinggal di Desa Labuhanratu Baru, Kecamatan Way Jepara, Lampung Timur. Pada Minggu (9/4) wanita sepuh itu mengizinkan Lampung Post menjejakkan kaki di gubuknya itu. Wanita itu lekas menyambut tamunya masuk. "Sepi, Mas. Lagi pada ke sawah ngasak padi mumpung musim panen," ujar Darmi sambil membenarkan posisi kayu kayu bakarnya.

Darmi mengatakan anak anaknya semua sudah berangkat ke sawah sejak pukul 06.00, mencari sisa sisa padi yang tercecer di sawah bekas dipanen pemiliknya (ngasak). Jika tidak musim panen, anak-anak Mbah Darmi bekerja serabutan. Ada yang kuli bangunan dan ada pula yang berjualan makanan (jajan) keliling di sekolah sekolah. "Rumah kami ta seperti ini mau dibangun ya enggak punya modal. Selain itu tanah yang kami tinggali punya orang (numpang)," kata Darmi.

Rumah yang hanya seluas 6 x 5 meter berdinding geribik dan lantai yang masih tanah merupakan tempat tinggal untuk delapan orang, kamar mandi pun kondisinya masih sangat memprihatinkan. Rumah itu hanya berdinding dari bambu beregi empat yang sudah rapuh, penerangan listrik pun masih dalam kondisi numpang dengan tetangga. "Masang listrik mahal, Mas, numpang dulu dengan tetangga, cuma bantu untuk beli pulsanya."

Di depan rumah terdapat dua karung padi, yang siap dijemur, padi seberat 80 kilogram yang berada dalam karung terpisah itu, bukan dari hasil panen sendiri, melainkan dari ngasak di sawah sawah yang baru dipanen.

Menurut Mbah Darmi, sekarang sudah zaman maju. Pemilik sawah kalau manen padi tidak lagi diburuhkan dengan orang dengan imbalan padi, melainan dengan menyewa mesin penggerek. “Ya, padi-padi yang tercecer di sekitar mesin kami kumpulkan. Itu namanya ngasak. Biasanya setengah hari bisa mendapat 10 hingga 20 kilo."

Hasil dari ngasak yang dikumpulkan oleh anak-anak Mbah Darmi tidak dijual, melainkan di jemur dan disimpan. Jika beras sudah mulai habis, padi hasil ngasak itu akan digiling dan berasnya dikonsumsi sendiri.

Selama panen yang sudah berjalan tiga pekan ini, di rumah geribik Darmi sudah terkumpul padi kering sebanyak tujuh karung dan itu bisa menjadi tabungan beras baginya selama beberapa bulan ke depan.

BAGIKAN


loading...
  • LAMPUNG POST
  • LAMPUNG POST | Radio Sai 100 FM
  • LAMPUNG POST | Lampost Publishing
  • LAMPUNG POST | Event Organizer
  • LAMPUNG POST | Lampung Post Education Center
  • LAMPUNG POST | Media Indonesia
  • LAMPUNG POST | Metro Tv