LAMPUNG POST | lampost.co logo
LAMPUNG POST | Korelasi Konsep Islam dan Realitas Masyarakat Lappung
Ilustrasi korelasi konsep Islam dan realitas masyarakat Lampung. 3.bp.blogspot.com

Korelasi Konsep Islam dan Realitas Masyarakat Lappung

PEMUKA agama dalam masyarakat Lampung berpandangan manusia berpotensi untuk berperilaku baik dan buruk. Dengan memiliki kebebasan memilih manusia dalam hidupnya mempunyai dua kecenderungan, di satu pihak terarah kepada yang baik (rasa keberagamaan), dan dipihak lain karena dorongan nafsu terjerumus ke dalam hal-hal yang buruk atau jahat.

Dua kutub kekuatan ini, tarik-menarik, pengaruh-memengaruhi. Banyak manusia dalam hidupnya senantiasa dihadapkan kepada situasi konflik antara benar-salah, atau baik-buruk. 

Sangat menarik Islam mengajarkan tentang hakikat manusia dan kebenarannya pun tidak diragukan sehingga masyarakat memahami dan mampu mengaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, jika dikaji secara empiris pada dasarnya manusia adalah mahluk sosial, ia tidak sanggup hidup kecuali dalam suatu kondisi yang memungkinkan pergaulan interaktif sesamanya. Pergaulan tersebut tidak saja signifikan dalam kaitan dengan pemenuhan kebutuhan materialistik dan sosial ekonomis bahkan politik, tetapi juga erat kaitannya dengan pemenuhan psikologis, spiritualistik, dan keimanan.

Kebutuhan-kebutuhan tersebut telah mendorong manusia untuk berkelompok dan membina suatu kesatuan sosial agar mereka merasa bersatu, kuat, dan berwibawa serta aman dari berbagai gangguan, baik yang alami maupun spiritual. Dengan persatuan itu mereka merasa lebih mudah berhasil mencapai sesuatu yang merupakan keinginan bersama.

Namun, dalam realita historis manusiawi keinginan itu dapat dan bahkan sering berbeda di samping cara dan tindakan untuk mencapainya karena watak yang beragam, juga dapat atau malah sering berlainan. Perbedaan-perbedaan itu dapat menimbulkan perselisihan yang mungkin sekali berakhir dengan permusuhan dan perkelahian.

 

Agama dan Ilmu Pengetahuan

Pemikiran yang berkembang di kalangan akademisi dan pemimpin agama, di antaranya mempertentangkan antara Islam dan ilmu pengetahuan, yang sering dipahami bahwa hubungan antara keduanya bersifat antagonistik dan lebih jauh lagi menganggap ilmu pengetahuan dapat menggantikan posisi agama. Kritik yang perlu dilakukan, justru perkembangan ilmu pengetahuan membawa pencerahan bagi umat Islam, mengingat ajaran Islam sebagai sumber ilmu, etika, moral, dan spiritual.

Dalam tradisi keilmuan telah berkembang pemikiran Islam yang telah dilakukan para ahli di bidangnya, dengan melakukan kajian empirik dan refleksi atas perjalanan hubungan antara agama dan berbagai persoalan kemasyarakatan dalam konteks masa kini, sehingga banyak pandangan yang menyatakan tradisi pemikiran keagamaan sesuai dengan dinamika ilmu pengetahuan. 

Kesadaran masyarakat untuk belajar membaca, menulis, dan meneliti secara rasional dalam proses intelektualisasi terhadap doktrin Islam, yaitu merumuskan kembali konsep-konsep dasar Islam secara kontekstual kaitannya dengan tata kehidupan masyarakat sudah menjadi tradisi akademik yang berkembang.

Sebagai contoh, pernyataan yang dikemukakan Effendy, “Konsep demokrasi secara filosofis sesungguhnya sejalan dengan prinsip-prinsip dasar dalam Islam. Prinsip syura, musawarah, dan adil yang selama ini dikenal dalam Islam, sesungguhnya akar dari bangunan demokrasi”.

Kemudian, dijelaskan “Membangun kesadaran pluralisme dalam tubuh umat Islam merupakan bagian penting dari konsekuensi tata kehidupan dunia global. Selanjutnya, oleh karena itu yang perlu dikembangkan oleh umat Islam sekarang tidak lagi aura Islam yang eksklusif dan dogmatik, tetapi moralitas universal yang ada di dalamnya direkonstruksi secara komprehensif dan dinamis dalam upaya membangun suatu masyarakat yang bermoral dan berperadaban”.

Kejayaan dan kemenangan manusia dapat diperoleh dengan kekuatan, kekuasaan, dan ilmu pengetahuan, baik melalui pisik maupun spiritual. Upaya strategis yang perlu dilakukan umat Islam, di antaranya meningkatkan intensitas dialog kritis-kreatif dengan teks kitab suci di satu sisi, serta dengan realitas dan sejarah keumatan di sisi lain. Upaya itu dibutuhkan sebagai cara menggerakkan percepatan membangun tata kehidupan masyarakat.

Oleh karena itu, umat Islam harus berilmu, mempunyai skill, dan kesigapan dalam bersaing guna membangun manusia yang berperadaban. Sehingga, muncul gagasan pemindahan kekuasaan dari semula dimiliki oleh pribadi-pribadi yang mungkin berubah atau umurnya pendek kepada lembaga, institusi (pranata) yang mungkin lebih tetap atau umurnya lebih panjang. Lembaga atau pranata tersebut bisa berbentuk lembaga agama, lembaga pendidikan, lembaga adat, lembaga politik, lembaga sosial, dan pranata lainnya. n

BAGIKAN


loading...

REKOMENDASI

  • LAMPUNG POST
  • LAMPUNG POST | Radio Sai 100 FM
  • LAMPUNG POST | Lampost Publishing
  • LAMPUNG POST | Event Organizer
  • LAMPUNG POST | Lampung Post Education Center
  • LAMPUNG POST | Media Indonesia
  • LAMPUNG POST | Metro Tv