LAMPUNG POST | lampost.co logo
2017 7 April
7048
Kategori Feature
Penulis Agus Susanto
LAMPUNG POST | Gubuk Mungil Wirkata dan Enam Anaknya
Kondisi gubuk Wirkata (44), warga Desa Labuhanratu, Kecamatan Labuhanratu, Lampung Timur, Rabu (5/4/2017). Di gubuk tersebut Wirkata tinggal bersama istri dan enam anaknya. LAMPUNG POST/AGUS SUSANTO

Gubuk Mungil Wirkata dan Enam Anaknya

RUANG tamu itu hanya berukuran 2 x 2 meter, berdinding geribik, berlantai semen yang sudah rusak tanpa ada meja kursi. Sorot lampu listrik redup menjadi penerang malam hari juga teman bercengkrama delapan penghuni rumah.

Tepat di sudut sebelah kiri, pakaian bergelantung di atas tali yang melintang sepanjang 1,5 meter. Terlihat beberapa foto keluarga menempel di dinding geribik. Foto tanpa bingkai berbungkus plastik itu dijepit oleh potongan lidi.

Ada pula satu uni televisi rusak berada di atas meja kecil di sudut kanan ruang tamu. Satu kamar tidur berukuran 2 x 3 meter beserta dua ranjang tidur terpisah menjadi tempat istirahat malam untuk delapan orang.

Sejumlah pakaian tanpa lemari tersusun di sebuah keranjang atom. Ada pula satu ruang dapur berukuran 2 x 5 meter dengan lantai tanah, tampak dua tungku dan sedikit tumpukan kayu bakar, disertai rak piring dari kayu yang sudah reyot.

Sendok-sendok makan hanya diselipkan di sisi dinding geribik dapur. Rumah geribik yang sudah berumur belasan tahun itu berukuran keseluruhan 4 x 4 meter, tetapi dihuni oleh satu keluarga berjumlah delapan orang.

Di belakang rumah, terdapat sebuah kamar mandi yang terbuat dari terpal warna kuning berbentuk segi empat berukuran 1 x 1 meter yang sudah robek-robek, dengan ketinggian hanya sebatas pusar orang dewasa.

Saat Lampung Post berkunjung di rumah milik Wirkata (44), warga Dusun Gunungterang, Desa Labuhanratu, Kecamatan Labuhanratu, Lampung Timur, Selasa (4/4/2017) malam, pemilik rumah mempersilakan masuk. "Masuk, Mas. Lampunya redup mau masang yang terang, listriknya numpang jadi enggak enak," ujar ayah enam anak itu.

Ia sedang asyik bersama kedua anaknya. Wirkata memangku anak terkecilnya, Alia (2), sedangkan Dila (9) duduk di sebelahnya.

Wirkata menceritakan beban hidupnya, dia memiliki enam anak, yang pertama bernama Murdi (15), Ridwan (13), Widia (12), Dila (9), Tika (4), dan Alia (2). Istrinya, Murna (40), bekerja di sebuah rumah makan sebagai tukang masak.

Dia sendiri bekerja sebagai buruh bongkar singkong (kuli) di sebuah pabrik pengolah tapioka yang tidak jauh dari rumahnya. Ia mengaku seharinya mendapat upah Rp60 ribu.

"Tetapi tidak setiap hari, dua hari sekali. Ya uangnya untuk biaya hidup sehari-hari. Kalau istri saya setiap bulan di gaji bosnya Rp500 ribu," kata pria berperawakan kurus itu.

Akibat ekonomi yang menghimpit, anak pertamanya tidak lulus SD, tetapi keluar saat masih kelas IV. Anak keduanya juga tidak lulus SD, keluar sejak kelas II. Anak ketiga dan keempat saat ini masih SD.

"Ya mudah-mudahan anak saya yang ketiga dan keempat bisa sekolah sampai SMP, sedangkan yang kelima dan keenam bisa sekolah juga," kata Wirkata.

BAGIKAN


loading...
  • LAMPUNG POST
  • LAMPUNG POST | Radio Sai 100 FM
  • LAMPUNG POST | Lampost Publishing
  • LAMPUNG POST | Event Organizer
  • LAMPUNG POST | Lampung Post Education Center
  • LAMPUNG POST | Media Indonesia
  • LAMPUNG POST | Metro Tv