Nuansa

Wujud Patriotisme 

Ilustrasi. (Dok.Lampost.co)

TANAH kosong seluas dua kali lapangan bola voli itu bersolek. Kain panjang merah-putih membentang di salah satu sisi lapangan. Di sekujur sisi lainnya, belasan bambu dengan rumbaian umbul-umbul dan bendera terpancang rapi.

Satu objek yang sangat menonjol di tempat itu adalah tiang bendera yang menjulang di ujung lapangan. Sebuah bambu setinggi 10 meter berdiri tegak dengan ditopang tiga bambu kecil yang menyangga di sekelilingnya.



Ya, tempat yang biasanya menjadi arena bermain anak-anak itu disulap menjadi panggung warga untuk melaksanakan upacara bendera memperingati Hari Kemerdekaan RI.

Bagi sebagian besar warga RT 02, Lingkungan I, Penengahanraya, Kedaton, Bandar Lampung, upacara bendera merupakan momen langka. Sebagian warga yang bermatapencaharian sebagai pedagang dan buruh itu belum tentu setahun sekali mengikuti seremoni pengibaran bendera.

Maka itu, semenjak ide pelaksanaan upacara mengemuka dalam rembuk kampung, seluruh warga antusias terlibat untuk menyukseskannya, termasuk Bhabinkamtibmas setempat.

Anggota Bhabinkamtibmas itu secara intens membimbing para warga yang berperan menjadi petugas upacara. Bukan tugas mudah mengajari mereka yang mungkin sudah puluhan tahun tak pernah menjadi perangkat upacara. Namun, semangatnya tak pernah surut demi mewujudkan keinginan warga.

Saking ingin memberikan hasil maksimal, latihan sekaligus geladi bersih pun dilakukan hingga malam hari. Di bawah penerangan seadanya, mereka fokus dengan tugas masing-masing demi menyajikan hasil yang memuaskan.

Jumat (17/8) pagi, cuaca begitu cerah. Sejak pukul 07.00, suara soundsystem sudah menggema ke penjuru kampung, memanggil warga untuk merapat ke lapangan. Petugas upacara sudah siap di posnya masing-masing.

Jarum pendek arloji tepat menunjuk angka delapan, upacara pun dimulai. Satu demi satu satu rangkaian seremoni berjalan lancar. Suasana kian khidmat saat pengibaran bendera yang diiringi lagu kebangsaan membahana. Sambil melakukan sikap hormat, tidak sedikit warga yang matanya berkaca-kaca saat mengikuti prosesi itu, mencerminkan rasa patriotik yang membuncah dalam diri mereka.

Pembina upacara mengajak warga untuk mengisi kemerdekaan dengan hal positif sesuai dengan potensinya masing-masing. Sementara itu, tokoh masyarakat setempat mengaku semua ini dilakukan sebagai wujud rasa cinta warga terhadap tanah air mereka.

Dalam rangka HUT ke-73 RI ini, setiap daerah menunjukkan rasa cinta kepada bangsanya dengan caranya sendiri-sendiri. Seabrek perlombaan anak-anak digelar di berbagai tempat untuk memperkenalkan kepada si kecil akan perjuangan para pahlawan merebut kemerdekaan.

Apa pun caranya, semua dilakukan demi tujuan yang sama, yakni menanamkan rasa cinta tanah air demi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bagaimana dengan kita? Dengan potensi yang kita miliki, sudahkah kita sudah memberi andil bagi negeri ini?

 

Komentar