Tumbai

​​​​​​​Warisan dalam Adat Lampung (2)

Warisan adat Lampung. (Foto:Dok.Lampost.co)

HARTA pusaka yang diwariskan dalam masyarakat adat Lampung terbagi menjadi dua, yaitu harta pusaka yang tidak berwujud dan harta pusaka yang berwujud. Untuk harta pusaka yang tidak berwujud, akan secara otomatis turun sebagai akibat sistem pewarisan mayorat laki-laki yang dianut oleh masyarakat adat Lampung.

Harta pusaka berwujud pun terbagi menjadi dua, yaitu pusaka tinggi (pusako tuha) dan pusaka rendah (pusako pencaharian). Pusaka tinggi adalah pusaka lama yang telah diwariskan secara turun-temurun dari nenek moyang. Adapun pusaka rendah adalah pusaka yang didapatkan tanpa melalui proses pewarisan sebelumnya.



Bentuk harta warisan kedua adalah harta warisan yang dapat dibagi. Harta warisan itu diturunkan dengan cara penerusan atau penunjukan. Pembagian harta warisan tersebut dapat dilakukan ketika pewaris masih hidup ataupun setelah pewaris meninggal dunia.

Prinsip dasar pewarisan masyarakat adat Lampung adalah cara bagaimana pewaris meneruskan atau mengalihkan harta kekayaannya kepada para ahli waris ketika ia masih hidup ataupun telah meninggal dan bagaimana cara warisan itu diteruskan penguasaannya juga pemakaiannya, serta cara pelaksana pembagian kepada para ahli waris setelah pewaris wafat.

Harta warisan dalam masyarakat adat Lampung adalah harta pusaka turun-temurun dari generasi ke generasi yang diwarisi dan dikuasai oleh anak laki-laki tertua. Bentuk warisan yang tidak berwujud, yaitu berupa gelar adat, kedudukan adat, hak-hak atas pakaian perlengkapan adat, ilmu atau keahlian untuk mengobati sesuatu, serta hak untuk mengatur dan mewakili anggota kerabat.

Harta warisan itu hanya boleh dikuasai oleh ahli waris, tetapi tidak boleh diperjualbelikan. Memperjualbelikan warisan itu masuk dalam kategori cempalo atau melanggar adat dalam keluarga.

Adapun warisan yang berwujud berupa pakaian perlengkapan adat, tanah pekarangan, bangunan rumah, tanah pertanian, perkebunan, dan harta yang bentuknya berwujud lainnya. Anak tertua laki-laki selaku ahli waris dan punyimbang dalam keluarganya wajib mengelola serta bertanggung jawab terhadap anggota keluarga pewaris sampai anggota keluarga lainnya dapat berdiri sendiri atau sudah menikah. BERSAMBUNG

Komentar