Buras

Wajib Hukumnya Pilih Ma'ruf Amin!

H. Bambang Eka Wijaya. (Dok. Lampost.co)

TANPA publikasi, 500-an kiai (beneran) dari seluruh Indonesia berkumpul di Pondok Pesantren Assidiqiyah, Kedoya, Jakarta Barat, Sabtu (15/9/2018). Para kiai itu berkumpul dalam bentuk ittifaqul ulama, mengeluarkan hukum wajib untuk memilih Rais Am PB NU KH Ma'ruf Amin dalam Pilpres 2019.

Pengasuh Pondok Pesantren Assidiqiyah, KH Noer Muhammad Iskandar mengatakan kiai dan pengasuh pondok pesantren seluruh Indonesia bersepakat untuk mendukung pasangan capres-cawapres yang ada unsur ulama, yakni pasangan Jokowi-KH Ma'ruf Amin.



"Dengan mohon rida Allah, para kiai mendukung KH Ma'ruf Amin untuk menjadi wakil presiden Republik Indonesia," jelas KH Noer Muhammad Iskandar. (suaranasional, 18/9/2018)

Sementara itu, KH Abuya Muhtadi Dimyathy dalam tausiahnya meminta seluruh ulama yang hadir agar sama-sama menjalankan hasil ittifaqul ulama dan mendoakan KH Ma'ruf Amin. "Kepada ulama jangan diubah, saya punya saudara namanya KH Ma'ruf Amin yang dipilih Pak Jokowi untuk mendampinginya agar para ulama bisa memilih KH Ma'ruf Amin," tegasnya.

Tidak dipublikasikannya ittifaqul ulama ini, bahkan seorang wartawan sebuah media online baru menemukan beritanya beberapa hari kemudian, mungkin karena tidak ingin dianggap berpolemik atau menyaingi dukungan terhadap pihak lain. Para kiai yang lazim berilmu padi, makin tinggi ilmunya makin merunduk, terkesan tidak ingin menggembar-gemborkan sikap dan putusannya. Namun, pengamalan putusan para kiai oleh pengikutnya tidak perlu diragukan.

Esensi ittifaqul ulama yang menetapkan hukumnya wajib memilih KH Ma'ruf Amin dalam Pilpres 2019, jelas secara nyata akan mengokohkan pendirian warga NU dan kaum muslimin yang sepaham. Dengan demikian segala upaya untuk menggoyahkan apalagi menggeser pendirian dan memalingkan dukungan mereka dari yang telah ditetapkan para kiai, tidak akan mudah dilakukan pihak lain. Dengan tipu daya dan provokasi seperti apa pun.

Tidak dipublikasikannya ittifaqul ulama ini juga mengesankan para kiai berusaha menghindari cara dan gaya komunikasi yang provokatif. Hal itu sesuai dengan keinginan para kiai selaku ulama yang mencintai umatnya agar pilpres yang dilakukan serentak dengan pemilu legislatif itu berlangsung sejuk dan kondusif.

Lewat ittifaqul ulama ini, para kiai memberi teladan kepada umat untuk berpolitik dengan bahasa yang lembut dan sopan, penuh rasa cinta dan sayang terhadap sesama. Tidak mengentak dengan ujaran kebencian dan menebar fitnah.

Komentar