Nuansa

Upaya Penyelamatan

Ilustrasi (Dok/Islampos)

SEJAK 10 Agustus, seluruh konten pornografi tidak bisa lagi diakses melalui internet nasional. Kabar itu menjadi angin segar yang menerbangkan kegelisahan di hati orang tua, yang waswas anaknya terpapar pornografi.

Keputusan Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara itu patut diapresiasi setinggi-tingginya. Kepedulian pemerintah melalui aksi memblokir akses ke situs pornografi tentulah sudah ditunggu-tunggu oleh para orang tua.



Bagaimana tidak, saat ini kasus pornografi di kalangan anak Indonesia darurat kejahatan luar biasa. Berbagai riset telah membuktikan fakta tersebut.

Penelitian End Child Prostitution, Child Pornography, and Trafficking of Children for Sexual Purposes (ECPAT) Indonesia menyebut 97% anak berusia 14—18 tahun terpapar konten pornografi dari internet. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Pemberdayaan Anak memaparkan kasus pornografi di kalangan anak termasuk kejahatan luar biasa. Pada 2016 tercatat lebih dari 63 ribu anak Indonesia terpapar pornografi dalam dua bulan.

Sebanyak 20—30 kali anak melihat pornografi yang mengindikasikan adanya kecanduan. Para ahli mengklaim paparan pornografi pada anak sama berbahayanya dengan kecanduan narkoba. Keduanya sama-sama menyebabkan kerusakan pada otak.

Prefrontal cortex adalah bagian otak yang dirusak oleh pornografi. Prefrontal cortex terlibat dalam perencanaan perilaku kompleks kognitif hingga pengambilan keputusan yang memengaruhi perilaku sosial.

Kecanduan pornografi pada anak dinilai tidak mengganggu IQ anak, namun menggerus moral dan karakter. Ini justru yang paling berbahaya. Saat seorang anak tidak punya moral, kejahatan apa pun bisa terjadi. 

Beberapa waktu lalu, Kementerian Sosial menyatakan pornografi menjadi faktor yang paling memengaruhi anak-anak melakukan kekerasan seksual. Jumlahnya mencapai 43%. Kemudian diikuti faktor pengaruh teman 33%, pengaruh narkoba 11%, trauma masa kecil 10%, dan pengaruh keluarga 10%.

Orang tua adalah pihak yang paling diuntungkan dalam pemblokiran konten pornografi. Upaya penyelamatan oleh pemerintah itu haruslah diimbangi orang tua dengan mendampingi anak selama berselancar di internet. Terapkan pula batas maksimal anak menjelajah dunia maya, karena bagi anak yang terpenting justru bereksplorasi di dunia nyata.

Rajinlah memberi pencerahan bagi anak agar generasi Z lebih tertarik pada konten edukatif. Dukung upaya penyelamatan ini dengan menciptakan suasana yang hangat dan kuat di keluarga. Kondisi itu akan menyelamatkan anak dari potensi menjadi pelaku ataupun korban kekerasan seksual. Demikianlah upaya penyelamatan mulai dari hulu ke hilir.

Komentar