Tajuk Lampung Post

Uji Nyali Politikus Muda

Surat suara pemilu. (Ilustrasi)

POLITIK bukan lagi dominasi kaum tua. Kini dunia politik juga sangat lekat dan dekat pada anak-anak muda yang banyak disebut sebagai generasi millennial. Sebuah generasi yang usianya antara 25 dan kurang dari 40 tahun.

Salah satu segmen politik yang banyak disasar kalangan pemuda adalah wilayah legislatif. Anak-anak muda yang lahir dan besar bersama perkembangan teknologi kini bersaing untuk merebut porsi kekuasaan di parlemen.



Banyak partai di tingkat kabupaten/kota, provinsi, hingga pusat yang memberi porsi cukup banyak terhadap pemuda yang ingin menjadi calon legislatif. Kondisi ini merata di banyak daerah, termasuk Provinsi Lampung.

Maraknya caleg muda tidak lepas dari sistem pemilu legislatif pascareformasi dengan proporsional terbuka. Dahulu, pemilih disuguhkan gambar parpol saja. Dengan mekanisme ini parpol menampilkan para caleg tiap daerah pemilih dengan nomor urut.

Masing-maisng parpol mengaku mengajukan sejumlah caleg berusia antara 21 dan 35 tahun ke Komisi Pemilihan Umum (KPU). Partai Keadilan Sejahtera Lampung menyebut 30% caleg dari generasi millennial yang akan bersaing dalam pileg tingkat provinsi. Mereka berasal dari latar belakang aktivis pemuda, pengusaha muda, hingga pesohor di media sosial.

Jumlah pemilih pemula di Lampung pada Pemilu serentak tahun 2019 mendatang bertambah sebanyak 125.477 orang. Sementara total daftar pemilih sementara (DPS) yang telah ditetapkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Lampung 5.893.538 orang.

Menggandeng politikus muda juga dilakukan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai NasDem, Partai Golkar, Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan, Partai Demokrat, Gerindra. Parpol baru juga melakukan langkah serupa, seperti Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Perindo, dan Partai Berkarya.

Masuknya darah muda ini diharapkan memberi hawa segar dan warna baru dalam pemilu legislatif. Banyaknya anak-anak muda yang maju pileg dapat meningkatkan partisipasi di kalangan pemilih pemula. Kalangan pemuda tergerak untuk datang ke TPS dan mencoblos karena ada sosok-sosok yang menjadi perwakilan mereka di lembaga legislatif.

Namun, partisipasi pemilih pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) Lampung 2018 turun 4% dari Pilgub Lampung 2014 patut menjadi catatan. Pada Pilgub Lampung Lampung 2014, partisipasi pemilih mencapai 76%, sedangkan tahun ini hanya 72%.

Pada pilgub lalu, ada calon gubernur M Ridho Ficardo dan kadidat wakil gubernur Chusnunia Chalim yang usianya relatif muda. Namun, tingkat partisipasi pemilih ternyata turun. Hal ini harus menjadi evaluasi mengapa calon muda tidak terlalu mendongkrak tingkat partisipasi.

Politikus muda dan politikus senior, jika tidak mau disebut tua atau sepuh, tidak hanya terletak pada perbedaan usia an sich. Lebih dari itu, caleg muda harus mampu menampilkan tradisi berpolitik yang modern, kaya dengan konsep, serta mengedepankan pendekatan informal.

Bisa jadi, keengganan pemilih pemula berpartisipasi karena politikus masih berjarak dan tidak berupaya menyelami kebutuhan dan semangat anak muda. Kebiasaan mobilisasi massa dengan politik uang tidak mempan terhadap generasi millennial. Justru mereka jijik dan jengah dengan cara berpolitik penuh kebusukan.

Caleg zaman now tentu harus menjauhi politik identitas dengan mengapitalisasi isu SARA. Justru mereka harus menjadi antitesis dan melawan arus dengan menyuguhkan politik santun dan penuh dengan kegembiraan, tanpa menonjolkan kegaduhan. 

Komentar