Nuansa

Tuan bagi Diri

Ilustrasi (Foto: Dok/Google Images)

FORMASI calon pegawai negeri sipil (CPNS) dari masa ke masa selalu menyedot perhatian publik. Wajar, sebab semua orang ingin ada kepastian dan jaminan di hari tua. Barangkali hal itulah yang dibutuhkan dari kehidupan masyarakat yang kian bergegas ini.

Lantas, apakah yang tidak menjadi pegawai negeri sipil, yang kini berganti nama menjadi apatur sipil negara, tidak memiliki kepastian dan jaminan? Tentu saja tidak!



Orang-orang yang bekerja di sektor swasta dan sektor lainnya juga memiliki kepastian dan jaminan. Tinggallah waktu yang menentukan apakah seseorang itu bahagia dengan pekerjaannya atau tidak. Namun, semua ihwal ini berpulang pada bagaimana seseorang bisa nyaman dan memberi manfaat di tempat dia bekerja.

Membahas perihal ini, saya selalu teringat dengan kata-kata yang digariskan ibunda Pramoedya Ananta Toer kepada Pram. Ibunda Pram, meski tidak berpendidikan tinggi, selalu membebaskan Pramoedya untuk menentukan pilihan hidupnya.

Sebaliknya, ayahnya yang kepala sekolah dan terpelajar justru mengekang Pramoedya karena dianggap bodoh dan tidak berguna. Maka, ibunda adalah sosok yang sangat dikagumi Pramoedya. Berikut kalimat yang saya dapatkan dari bilah mesin pencari ihwal kekaguman Pram kepada ibundanya.

"Ibu saya itu, seorang ibu yang ideal. Bukan karena saya anaknya, tapi makin lama saya makin kenang apa yang dilakukannya, didikannya terhadap saya, saya makin menghormati. Seperti: ‘Jangan jadi pegawai negeri, jadilah majikan atas dirimu sendiri. Jangan makan keringat orang lain, makanlah keringatmu sendiri.’ Dan itu dibuktikan dengan kerja. ‘Kalau kau nanti sudah besar, belajarlah di Eropa.’ Walaupun pada waktu tidak ada kemampuan untuk itu. Tidak mungkin itu. Tapi, dia sudah menggariskan begitu. Dan ternyata juga sebagian anak-anaknya belajar di Eropa kemudian, kecuali saya.”

Majikan atau tuan bagi diri sendiri. Itulah kunci Pramoedya terus bertahan hidup dan berkarya selama hidupnya. Tengoklah petikan kalimat Pramoedya Ananta Toer dalam anak rohani Bumi Manusia di bawah ini.

"Memang berita mutasi tidak pernah menarik perhatianku; pengangkatan, pemecatan, perpindahan, pensiunan. Tak ada urusan! Kepriyayian bukan duniaku. Duniaku bukan jabatan, pangkat, gaji dan kecurangan. Duniaku bumi manusia dengan persoalannya."

Saya perlu mengutip Pramoedya secara proporsional dan mengambil nilai positifnya saja. Saya tidak akan bilang seperti ibunda Pram jangan menjadi pegawai negeri. Itu sah-sah saja dan dipersilakan bagi yang berminat. Namun, saya berharap dari ribuan formasi CPNS yang dibutuhkan di seluruh wilayah Lampung itu jangan makan dari keringat orang lain ataupun jangan mengisap dan makan apa yang memang sudah menjadi hak orang lain. Jadilah ASN yang bermartabat dan bermanfaat bagi sesama. Semoga.

Komentar