Nuansa

Teman Spiritual

Ilustrasi (Foto: Dok/Google Images)

MEMBUKA-BUKA berkas tulisan opini yang pernah terbit, saya mendapati tulisan Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar mengenai teman spiritual. Dalam salah satu kalimatnya, dia menuliskan bahwa salah satu tanda sayang Allah kepada kita adalah dengan diutusnya seorang teman spiritual kepada kita.

Begitu berharganya teman spiritual, yang selalu mengajak kita mendekat kepada Allah. Bahkan, saking berharganya, mendapati teman yang selalu mengajak kesalehan, kata Umar bin Khattab, adalah nikmat yang besar bagi seorang muslim. Dia bahkan memosisikan nikmat itu setelah nikmat keislaman. Maka, kata Umar, apabila mendapati teman yang saleh, peganglah ia erat-erat!



Memang, tidak bisa dimungkiri, kita begitu membutuhkan sosok yang mampu membuat kita selalu “sejuk” saat hati sedang dilanda kegersangan. Berbeda dengan teman pragmatis yang kerap mendekat saat kita senang, teman spiritual akan selalu berada di sisi kita dalam kondisi apa pun. Karena itulah, keberadaannya selalu dirasakan di dalam hati.

Kehadirannya selalu memberikan pencerahan dan petunjuk. Kalau dikategorikan dalam versi Cak Nun, dia adalah tipe manusia “wajib”. Artinya, keadaannya sangat diinginkan. Jika hadir, dia membawa manfaat. Jika dia tiada, justru membawa kehampaan. Selain sosok wajib, ada pula sosok manusia yang bertipe sunah, mubah, makruh, dan haram. Untuk penjelasannya, silakan dijabarkan sendiri! Hehe.

Semoga Allah selalu mengaruniakan sosok-sosok ideal yang hadir dalam hidup kita untuk menjadi teman spiritual. Amin.

* * *I

DI ruang redaksi, setiap hari kami meramu berita yang masuk untuk disajikan kepada pembaca. Pekerjaan yang dibatasi deadline terkadang membuat kami tenggelam oleh rutinitas, terlebih pada waktu sore hingga menjelang pukul 21.00 malam. Sebab, pada waktu itu biasanya aktivitas di dapur redaksi sedang “ngebul-ngebulnya”.

Pada waktu itu pulalah datang tiga waktu salat fardu: asar, magrib, dan isya. Namun, meski suara dari muazin menggema dari pelantang musala, rasanya setan terlalu lihai membuat kursi kerja terasa lebih empuk.

Menghadapi kondisi seperti itu, kami sering terlena. Untungnya, kami berusaha untuk saling mengingatkan. Saat yang satu larut dengan pekerjaan, rekan lainnya mengingatkan untuk bersama melangkahkan kaki menuju musala. Merujuk ciri teman spiritual, itulah teman-teman spiritual yang ada di lingkungan kerja saya.

Cerita datang ketika salah satu rekan kerja kami—yang kerap menjadi “alarm” untuk mengingatkan salat—memutuskan untuk mengundurkan diri. Sosok yang kerap dipanggil “ustaz” itu tidak bosan untuk melongokkan kepala ke boks meja kerja kami untuk mengajak bersembahyang saat waktunya tiba.

Kemarin, sang Ustaz mendatangi meja kerja saya. Bukan untuk mengajak salat atau berdiskusi perihal pekerjaaan, dia pamit ingin resign demi menggapai cita-citanya. Rasa kehilangan pasti ada. Namun, nasihat, ilmu, dan sifat ahsannya selalu terpatri dalam kenangan kami. Semoga sukses di tempat yang baru, Bung Fathul Muin!

Komentar