Buras

Sukses Asian Games, ke Olimpiade!

H. Bambang Eka Wijaya. (Dok. Lampost.co)

WAKIL Presiden Jusuf Kalla pada penutupan pesta olahraga Asia menyatakan Asian Games 2018 sukses sarana, sukses penyelenggaraan, dan sukses prestasi. Sukses itu bukan hanya klaim Indonesia, melainkan juga diakui dunia yang dicerminkan pujian media, salah satunya South China Morning Post (2/9/2018) yang menyebut Asian Games 2018 terbaik dari yang pernah ada.

Bagi Indonesia, pujian dari masyarakat dunia itu selain memberi keyakinan atas kemampuan bangsa melakukan pekerjaan besar berkelas Asia itu, sekaligus menjadi tantangan untuk mampu mempertahankan prestasi tersebut dan bahkan terus meningkatkannya ke depan.



Sukses prestasi Indonesia yang terbaik sepanjang sejarah Asian Games itu, yang menempatkan kita di posisi empat besar olahraga Asia, tanpa retorika yang muluk pun telah membuktikan bahwa Indonesia kini salah satu Macan Asia.

Untuk mempertahankan prestasi tersebut di Asian Games 2022 di Hangzhou, Tiongkok, harus diuji lebih dahulu di event yang lebih tinggi, Olimpiade 2020 di Tokyo. Tantangan yang dihadapi di Olimpiade jauh berbeda. Sebab, beberapa cabang olahraga yang menjadi tambang emas Indonesia di Asian Games, belum dipertandingkan di Olimpiade. Salah satunya pencak silat, padahal di Asian Games menyumbang 14 emas.

Oleh karena itu, bersama bulu tangkis sebagai cabang olahraga yang sejak 1992 telah meraih emas bagi Indonesia, cabang olahraga lainnya harus bekerja keras lebih efektif untuk meraih prestasi di Olimpiade. Untuk itu, latihan fisik dan teknik maksimal sekalipun belum cukup karena pesaing dari negara maju selain latihan fisik dan teknik, juga didukung peralatan teknologi olahraga.

Teknologi itu, selain kelengkapan alat-alat seperti yang ada di pusat kebugaran, juga dalam bentuk tambahan kemampuan fisik meski tidak sampai bersifat doping. Semua peralatan teknologi itu mendukung para atlet untuk memiliki stamina dan mental bertanding lebih besar, berlari atau berenang lebih cepat, melompat lebih tinggi atau lebih jauh, mengangkat beban lebih berat, dan lainnya.

Semua itu bukan dilakukan dalam waktu singkat—kalau di Indonesia hanya sepanjang waktu training center menjelang suatu event—tetapi dilakukan sejak penemuan bakat, dibina secara kontinu dan tersistem, sampai si atlet menjadi bintang. Artinya, meskipun kini tidak mungkin lagi dilakukan seefektif itu, para atlet cabang olahraga Olimpiade harus menjalani program sejenis sepenuhnya hingga tiba event dunia itu.

Komentar