Hiburan

Slamet Rahardjo Sempat Menolak Bintangi Petualangan Menangkap Petir

Slamet Rahardjo (Foto: MI/Ramdani)

JAKARTA (Lampost.co)--Aktor senior Slamet Rahardjo sempat enggan terlibat dalam film Petualangan Menangkap Petir. Penyebabnya, judul film yang awalnya diberi nama "Sterling" dirasa kurang tepat.

"Pertama juga saya tolak, judulnya Sterling, film opo? Ceritanya tentang Ki Ageng Selo mau saya. Tolong dong judulnya ditukar, akhirnya mau," kata Slamet Rahardjo di CGV Grand Indonesia, Jakarta, Jumat (24/8/2018).



Sterling sendiri adalah nama salah satu tokoh utama yang diperankan Bima Azriel.

Dalam film Petualangan Menangkap Petir, Slamet Rahardjo berperan sebagai kakek Sterling yang bermukim di Desa Selo, Boyolali, Jawa Tengah. Petualangan Sterling, anak belasan tahun yang telah lama bermukim di Hong Kong dimulai di sini. Sterling mulai menemukan teman-teman 'nyata' yang tidak ditemui selama tinggal di Hong Kong.

Petualangan Menangkap Petir mencoba bercerita tentang kehidupan anak-anak modern dan interaksi melalui teknologi. Sterling (Bima Azriel) adalah YouTuber asal Indonesia yang lama menetap di Hong Kong. Suatu waktu ketika kembali ke Indonesia, Sterling menemukan hubungan pertemanan yang nyata dengan Gianto/Jayen (Fatih Unru) anak Desa Selo, Boyolali. Petualangan mereka bermula ketika Sterling dan Jayen menggabungkan teknologi dan mimpi.

Slamet Rahardjo pun menanggapi pengaruh teknologi dalam gaya hidup modern sekarang. "Melihat moderenisasi sebagai sesuatu yang mengikat. Moderenisasi itu membebaskan, bukan mengikat. Sekarang itu yang terjadi di Indonesia. Kita jadi korban teknologi, bukan pengendali teknologi. Jadi korban hoax," papar Slamet.

Petualangan Menangkap Petir diproduksi Fourcolours Film dengan produser eksekutif Ifa Isfansyah, produser Abimana Aryasatya dan co-produser Prawita. Film ini diarahkan sutradara Kentz Agus berdasarkan naskah Eddie Cahyono dan Jujur Prananto dengan dua perspektif berbeda, generasi muda dan tua.
Petualangan Menangkap Petir dijadwalkan tayang di bioskop 30 Agustus 2018.

Komentar