Nuansa

Sekeping Gobang

Ilustrasi (Foto: Dok/Google Images)

SYAHDAN, Wak Labai, baginda raja dari Kerajaan Indopahit, pusing alang kepalang mencari sosok penting mengelola keuangan negara. Seorang bendahara kerajaan yang cermat lagi cakap memahami persoalan rakyat tengah ia butuhkan.

Wajar Raja Wak Labai pusing. Sebab, dari enam bendahara kerajaan sebelumnya, tidak satu pun mengemban amanah. Semua orang kepercayaannya itu bernasib tragis mengendap di jeruji besi lantaran tertangkap korupsi.



Kini di hadapannya duduk bersimpuh dua menteri terbaik yang ia miliki. Orang pertama adalah Dul Gepuk, sosok yang tengah menjabat menteri pendidikan. Orang kedua adalah Sutan Aji, sosok yang kini mengemban tugas sebagai menteri dalam negeri.

"Kalian kandidat terbaik harus bisa menjawab pertanyaanku ini. Bagi yang memiliki jawaban terbaik, dia yang akan kupilih," ujarnya.

"Pertanyaan apakah, Baginda?" tanya Dul Gepuk dan Sutan Aji berbarengan.

"Seberapa besar kalian menilaiku?" tanya Raja Wak Labai.

Sutan Aji yang memang punya ambisi menduduki kursi bendahara lekas menjawab. "Menurut hamba, Baginda sosok tidak ternilai. Baginda adalah pemimpin kerajaan ini. Tentu Baginda amat berharga bagi rakyat," ujarnya.

"Iya. Seberapa besar dirimu menghargai aku?" Raja Wak Labai masih bertanya.

"Jika dinilai dengan uang, nilai yang mulia adalah 1.000 karung emas. Di mana, satu karungnya berisi 1.000 keping emas batangan," ujar Sutan Aji. Mendengar jawaban ini, Sang Raja manggut-manggut.

"Bahkan, jika gunung-gunung di Indopahit ditimbang atau tujuh samudera di negeri ini diselami dan diukur kedalamannya, masih belum bisa menandingi seberapa besar berharganya Baginda," ujar Sutan Aji lagi.

"Kalau kamu, Dul Gepuk?

Dul Gepuk mengambil napas dalam dalam. Kemudian ia mengeluarkan sekeping uang receh dari sakunya.

"Baginda hamba nilai sekeping gobang," ujar Dul Gepuk lirih.

"Apa!" Sutan Aji terkejut. Menurutnya, berani sekali rekan sejawatnya itu menilai Sang Baginda Raja demikian rendah.

"Apa penjelasanmu?” tanya Raja Wak Labai.

"Bagi rakyat jelata, rakyat kita yang hidup di bawah garis kemiskinan sekeping gobang ini lebih berharga dari apa pun, Baginda," jawab Dul Gepuk.

"Ketika harga kebutuhan pokok naik sekeping gobang, mereka akan hidup tercekik. Mereka tidak pernah berharap memiliki bertumpuk tumpuk emas. Bagi mereka, sekeping perak ini sudah cukup berharga menyambung hidup," lanjut Dul Gepuk.

"Demkian berharganya sekeping gobang ini. Maka, demikian pula berharganya Yang Mulia Raja di mata hamba,' ujar Dul Gepuk.

Mendengar jawaban itu, Raja Wak Labai tertawa girang. Menurutnya, jawaban Dul Gepuk sarat makna.

"Ini dia sosok menteri yang kucari. Jika kau menganggap sekeping perak saja demikian penting, kau dapat menjaga keuangan negeri ini dengan baik,” sahutnya.

"Mulai besok kau menjadi menteri perbendaharaan kerajaan ini. Gaji pertamamu sekeping gobang," seru Raja Wak Labai lantang.

"Apa!" ujar Dul Gepuk terkejut hingga terbangun dari tidurnya.

Baru saja ia mimpi indah mendapat jabatan penting, namun seketika sirna karena gajinya terlalu kecil. Ana kedah!

Komentar