Nuansa

Sang Dermawan

Ilustrasi (Foto: Dok/Cahayaislam.id)

SENIN (16/7/2018) siang, di salah satu rumah makan di Jalan Soekarno-Hatta, Bandar Lampung, seorang bocah berusia sekitar 13 tahun hendak membeli nasi bungkus.

Sambil membawa plastik hitam dan pakaian—maaf—sedikit lusuh serta bersandal jepit, bocah itu memesan sebungkus nasi telur.



Dengan raut tampak murung, bocah itu mengeluarkan uang pecahan Rp2.000 dari sakunya. Uang itu digenggamnya sembari menunggu pesanan nasi bungkusnya.

Tidak lama berselang, ibu pemilik rumah makan tersebut berkata kepada bocah tersebut. "Nak, ini dibungkusin nasi ayam, ya. Tadi sudah dibayarin sama bapak yang barusan pergi," ujar ibu tersebut.

Mendengar ucapan ibu itu, bocah tersebut terdiam sejenak. Dia seperti terlihat merasa bingung. Namun, dari raut wajahnya dia tampak gembira. Senyuman terlukis di wajahnya tatkala mengambil nasi bungkus yang telah dipesan untuknya.

Pandangan saya yang sedari tadi memperhatikan mimik bocah tersebut lalu beralih kepada sosok dermawan yang sedang berjalan keluar rumah makan.

Seolah tidak ingin menunjukkan kebaikannya, pria berusia sekitar 40 tahun yang mengendarai motor matic itu kemudian berlalu meninggalkan tempat tersebut.

Pemandangan nyata yang terjadi di rumah makan itu memberikan saya sebuah pelajaran berharga. Kedermawanan, sekecil apa pun, bisa dilakukan di mana saja. Dan, satu catatan pentingnya, sebuah kebaikan tidaklah perlu ditunjukkan.

Dalam Islam, Allah swt telah menjanjikan harta yang dikeluarkan di jalan-Nya pasti akan mendatangkan keberkahan. Tidak akan jatuh miskin seseorang yang memberi sedekah. "Dan, barang apa saja yang kamu nafkahkan, Allah akan menggantinya. Dialah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya." (QS Saba': 39).

Dan, mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. Sesungguhnya, Kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridaan Allah. Kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” (QS Al-Insan: 8—9).

"Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk siapa yang dikehendaki-Nya. Dan, apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan, janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridaan Allah. Dan, apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup, sedangkan kamu sedikit pun tidak akan dianiaya (dirugikan)." (QS. Al-Baqarah: 272).

Subhanallah, alangkah tingginya derajat orang yang peduli dengan kesusahan sesamanya! Semoga, kebaikan dan kedermawanan dapat senantiasa menyertai kehidupan kita.

Sungguh indah bisa berbagi dan membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan. Semoga kemuliaan selalu mengiringi setiap napas kehidupan orang-orang yang baik. Amin.

Komentar