Tumbai

Sanak Uloh (Habis)

sanak uloh (ilustrasi)

KEPERCAYAAN orang Lampung pada zaman dahulu (tumbai) bahwa anak laki-laki yang meninggal kemudian lahir kembali atau disebut sanak uloh merupakan anak yang dikembalikan oleh Tuhan.

Agar nantinya ia tidak kembali pergi (lijung) diambil lagi oleh Yang Maha Pencipta, ada beberapa ritus yang dilakukan oleh kedua orang tua si anak. Misalnya dengan cara memakaikan anak tersebut anting emas sebelah, memakai kalung hitam yang diberi rajah dibungkus kain hitam, dan menitipkan anaknya kepada tetangga hingga dewasa. Kemudian, dituktuh dengan menggunakan jantung ayam, sampai melakukan upacara prosesi tolak bala, seperti menyembunyikan anak tersebut dalam periuk, kuali besar, dan lain-lain ketika sedang terjadi peristiwa malam purnama.



Perlakuan khusus yang diberikan kepada sanak uloh tersebut biasanya berlangsung hingga anak tersebut dewasa dan orang tua si anak sudah benar-benar yakin bahwa anaknya tidak akan lijung atau pergi lagi.

Memakaikan anting emas sebelah kepada sanak uloh diyakini karena anting emas adalah simbol perempuan, orang-orang tua zaman dahulu beranggapan dengan memasangkan sebelah anting emas tersebut kepada seorang sanak uloh akan dapat mengelabui mahluk gaib yang akan mengambil kembali anak laki-laki yang telah kembali kepada orang tuanya tersebut. Sama halnya dengan menitipkan sanak uloh tersebut kepada tetangganya, orang tua zaman dahulu beranggapan ini dapat mengelabui mahluk gaib bahwa sanak uloh yang kembali setelah lijung, kembali keluar dari rumah orang tuanya.

Dari perlakuan-perlakuan yang diberikan kepada sanak uloh, tampak sekali pada zaman dahulu masih adanya pengaruh agama Hindu/Buddha dan aliran kepercayaan. Konon sebelum Islam datang ke Lampung, masyarakat Lampung tumbai telah menganut Hindu/Buddha dan aliran kepercayaan karena dalam agama Islam tidak mengenal istilah reinkarnasi atau roh yang telah mati akan kembali lagi.

Saat ini sebuah budaya ritus dalam model bentuk perlakuan terhadap sanak uloh hampir tidak dipakai lagi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Lampung.  Kehidupan agama Islam yang kini relatif lebih kental dalam masyarakat, selain logika dan pola pikir masyarakat yang telah berubah terhadap kepercayaan akan hal-hal yang gaib, sehingga perlakuan dan prosesi yang berlaku bagi sanak uloh sudah sangat jarang bahkan tidak pernah dilakukan lagi.

Komentar