Nuansa

Sambal Mbok Siah

Ilustrasi sambal. (Dok/Lampost.co)

DI masa pra dan awal kemerdekaan pada 1940-an, bisa makan cukup tiga kali sehari sudah sangat bagus. Menurut orang tua, keadaan saat itu begitu prihatin, termasuk ratusan keluarga transmigran asal Jawa Tengah yang ditempatkan di Bedeng 12B Metro.

Dalam situasi itu, salah satu menu andalan adalah Mbok Siah, yakni sambal sederhana dengan bahan hanya dari lombok (cabai), terasi, dan uyah (garam). Berpuluh tahun kemudian, resep sambal Mbok Siah itu bertambah dengan gula merah, tomat, dan jeruk.



Sejarah membuktikan, di masa paceklik, cabai menjadi sahabat setia penduduk negeri ini. Tetapi, jangan keliru, di masa kemajuan ekonomi sekarang, cabai tetap menjadi salah satu kebutuhan strategis keluarga. Seperti layaknya tanaman musiman, jika pasokan cabai sepi, harganya bisa meroket hingga Rp100 ribu/kg dan menimbulkan kepanikan di kalangan ibu rumah tangga. Tetapi, saat musim panen bisa anjlok sampai di bawah Rp10 ribu/kg di tingkat petani. Itulah salah satu ciri komoditas musiman.

Bagi politikus, fluktuasi harga cabai bisa digoreng menjadi isu politik yang “pedas”. Ketika harga cabai mahal, pemerintah dituding tidak bisa menstabilkan harga sehingga menyulitkan kehidupan masyarakat luas. Tetapi, saat harga cabai jatuh, pemerintah dinilai tidak mampu memberi jaminan kesejahteraan bagi para petani. Lebih geger lagi kalau pemerintah membuka keran impor cabai.

Padahal, apalah daya pemerintah untuk melakukan intervensi pasar terhadap komoditas cabai. Untuk komoditas bahan pokok semisal beras, memang pemerintah punya tata niaga khusus, ada regulasinya dan ada fasilitasnya, termasuk gudang beras yang dikeluarkan saat harga tinggi untuk stabilisasi harga.

Tetapi, tidak ada tata niaga cabai, tomat, jengkol, kangkung, atau bayam. Tingkat harga sepenuhnya murni diatur mekanisme pasar. Bisa dibayangkan tingginya kesulitan teknis saat membuat gudang cabai atau tomat, misalnya.

Fluktuasi harga cabai sering terjadi, bahkan sejak zaman Suharto. Presiden yang lekat dengan dunia pertanian itu menyarankan setiap keluarga menanam cabai secukupnya dalam pot atau polybag. Sehingga, saat harga cabai tinggi, ekonomi keluarga tidak terganggu urusan cabai. Untuk yang satu ini, saran tersebut sudah tepat. Sebab, pemerintah, siapa pun yang memimpin, tidak punya kuasa untuk mencegah fluktuasi harga cabai.

Sama seperti cabai, gejolak harga pun terjadi untuk komoditas kopi dan lada. Boleh jadi nanti akan terjadi juga fluktuasi harga untuk komoditas lainnya. Sampai titik ini, bisa dipahami jika hampir seluruh negara berusaha kuat untuk mengubah komoditas ekspor dari bahan mentah primer menjadi barang industri olahan. Tetapi memang, citarasa sambal Mbok Siah lebih maknyus jika memakai cabai segar dibanding saus atau serbuk cabai dari pabrikan.

Komentar