Breaking News

Saksi Menyebut Bambang Kurniawan Merasa Diperas Dewan

Sidang kasus gratifikasi Bupati Nonaktif Bambang Kurniawan digelar hingga malam di PN Tanjungkarang, Selasa (21/3/2017). (Foto:Lampost/Febi)

BANDAR LAMPUNG--Saksi ketiga yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum dalam sidang lanjutan dugaan geratifikasi Bambang Kurniawan, menghadirkan Kepala Bappeda Tanggamus, Hendra M. Wijaya.

Dalam kesaksianya Hendra mengatakan pada saat pengesaha 30 Novemeber 2015, APBD Kabupten Tanggamus, cenderung bergerak naik menjadi jadi Rp1,6 triliun dari jumlah itu masih ada surplus Rp4,9 miliar.

Dalam pembahasan saksi menyebutkan ada pembahasan secara teknis dan nonteknis, tapi ia tidak dapat menjelaskan yang dimaksud nonteknis ytersebut. "Saya tidak tahu kalau pembahasaan nonteknis APBD itu sperti apa, yang saya tahu lobi-lobi itu yang dimaksud nonteknis. Yang tahu pasti Pak Bupati dan ketua-ketua fraksi sama Allah soal itu," kata saksi disambut tawa bupati Tanggamus beserta penonton sidang.
Penasehat Hukum Bambang Kurniawan, Sopian Sitepu mempertanyakan apakah saat APBD disahkan keuangan dalam kondisi defisit? Hendra menyebut Setelah 3 November APBD disahkan keuangan dalam kondisi surplus, tapi setelah didesak Hakim Ketua Minanoer Rahman, saksi menjawan defisit.

Pada tanggal penetapan tersangka terhadap Bambang Kurniawan, seluruh SKPD mendatangi kediaman Bambang. Dihadapan para SKPD, Bambang bercerita jika dia adalah korban karena dia merasa diperas selama ini.
"Kata beliu (Bambang), saya mersa diperas saya yang didatangi mereka (DPRD), malah saya yang seperti ini sekarang," ucap Hendra.
Hingga pukul 20.45 Sidang dugaan geratifikasi dengan terdakwa Bupati nonaktif Bambang Kurniawan tetap digelar meski pun tiga saksi lainnya belum dihadirkan dipersidangan.

Komentar