Muda

Saat Ramalan Jadi Hiburan

Sejumlah anak muda berbincang tentang ramalan zodiak. (Lampost.co/M Umarudinsyah Mokoagow)

HAI Guys! Sebagaimana diketahui saat ini adalah era digital. Meskipun demikian, tidak jarang sahabat muda sekarang maupun orang-orang di sekelilingnya masih ada yang percaya atau tidak percaya dengan ramalan nasib untuk melihat masa depan baik buruknya seseorang. Sebagai anak muda zaman now, kalian masih percaya enggak sih dengan ramalan bintang, zodiak, shio, dan sejenisnya? Lantas, apa pendapat kalian tentang ramalan nasib seseorang?
Mahasiswa Universitas Lampung, Riki Prayoga, mengatakan zodiak atau ramalan dianggap sebagai hiburan. Dia tidak terlalu percaya dengan ramalan nasib seseorang. Sebab, nasib seseorang bisa berubah sesuai dengan usaha yang dilakukannya.
"Kalau saya pribadi tidak percaya. Karena saya anggap kalau ramalan itu sebagai hiburan saja untuk senang-senang enggak lebih," ujar mahasiswa semester IX itu.
Selain itu, ramalan bintang tidak selalu benar. Apalagi, hanya dilihat dari tanggal lahir atau bintang seseorang. Tingkat kebenarannya pun sulit untuk dipercaya. Jika terlalu percaya dengan ramalan seperti itu, sebagai umat Islam akan syirik dan menyekutukan Allah.
"Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum tersebut mengubahnya. Itu sudah jelas."
Senada dikatakan Neni Susanti, remaja yang aktif berjualan online shop. Dia mengaku tidak percaya bahkan cenderung tidak memerdulikan ramalan nasib lewat bintang, zodiak, dan sebagainya. Sebab, hasil yang didapat seseorang sesuai dengan usaha yang dilakukan. Menurut Neni, ramalan tidak berpengaruh dengan nasib seseorang.
"Kalau saya sih enggak percaya dengan ramalan seperti itu. Karena kan hasil sesuai dengan proses yang dilakukan. Besar kecil hasilnya tergantung dengan usaha," kata perempuan berhijab itu.
Neni melanjutkan ramalan bintang atau nujum biasanya banyak yang tidak sesuai dengan kepribadian. Sebab, sifat ramalan itu hanya perkiraan sementara. Dia menegaskan hasil perhitungan ramalan itu banyak yang tidak masuk akal. "Misalnya tentang asmara, percintaan, nasib. Menurut saya banyak yang tidak sesuai, sehingga ramalan seperti itu hanya sekadarnya saja, bukan untuk diyakini," ujarnya.
Inovasi
Mahasiswa Jurusan Kehutanan Unila Wawan Setiawan juga tidak percaya dengan ramalan. Menurutnya, ramalan dibuat segelintir orang. Tingkat kebenaran dan akurasinya pun tidak bisa dipertanggungjawabkan.
Sebagai anak muda yang hidup dengan pesatnya perkembangan teknologi, akan lebih baik membuat suatu inovasi yang hasilnya bisa dinikmati orang lain.
"Saya memang dari dulu tidak percaya dengan ramalan nasib, seperti zodiak dan sejenisnya. Karena menurut saya itu hanya buatan, prediksi segelintir orang," kata dia.
Namun, Wawan mempersilakan saja jika ada orang maupun segelintir temannya yang masih percaya dengan ramalan, mitos, dan lain sebagainya. Karena masyarakat Indonesia masih kental dengan hal semacam itu dan ada pula yang meyakini hal tersebut bisa mengubah nasib seseorang.
"Percaya atau tidak itu diserahkan kepada pribadi masing-masing. Karena tidak dimungkiri bahwa adat istiadat kami masih banyak yang meyakini ramalan," ujarnya.

Komentar