Opini

Revolusi Pembelajaran

Ilustrasi (Foto: Dok/Silabus)

KETIKA banyak pihak bahkan pengambil kebijakan mempertanyakan kembali kualitas pendidikan, tentunya akan menyandingkan dengan kebijakan-kebijakan yang mendukung akan hal tersebut. Dari berbagai kajian dan pendapat pakar, ternyata terdapat beberapa kebijakan yang tidak mampu mendongkrak mutu pendidikan. Anggaran yang dikeluarkan oleh pemerintah sebesar 20% tidak mampu membawa pendidikan kita lebih baik dari sebelum anggaran pendidikan diberi jatah sebesar itu.

Pidato Menteri Keuangan mengagetkan kita. Menurutnya, besarnya tunjangan guru dalam bentuk sertifikasi tidak membawa kualitas pendidikan ke arah yang lebih baik. Artinya, kebijakan tentang program sertifikasi guru yang diberi label PLPG gagal. Skenario PLPG tidak cocok dengan karakter guru yang sangat heterogen baik dari usia, latar belakang pendidikan, tingkat penguasaan teknologi, dll, sehingga kebijakan ini dinilai tidak efisien dan efektif.



Berbagai pengamat pendidikan menyebutnya sebagai kebijakan satu untuk semua. Belum lagi dengan kebijakan-kebijakan lain yang terkesan terburu-buru, sehingga pada saat sampai tataran penerapan memunculkan banyak masalah, bukan untuk mengatasi masalah.

Perlu Perubahan

Nasi sudah menjadi bubur, anggaran yang dipergunakan untuk pengembangan sumber daya manusia guru dan sebagai wujud penghargaan atas profesi guru sudah terlanjur digulirkan. Maka itu, harus ada revolusi yaitu perubahan mendasar yang langsung mengena pada tataran paling bawah dari praktik pendidikan, yaitu pembelajaran di sekolah.

Pembelajaran yang dilakukan di sekolah dari sekolah dasar sampai sekolah menengah atas baru dilakukan secara individual dan tentunya berdampak pada peserta didik secara individual juga. Hanya beberapa peserta didik yang tuntas dalam memahami apa yang disampaikan guru. Terinspirasi dari cara kerja seorang dokter, pada saat melakukan tindakan terhadap seorang pasien dokter tidak melakukan sendiri, tetapi bekerja dengan tim dan dokter lain yang memiliki keahlian berbeda-beda.

Pembelajaran seharusnya juga demikian, melibatkan banyak ahli, apalagi pembelajaran di kelas yang sifatnya klasikal. Kelas yang peserta didiknya berjumlah lebih dari 25 tidak akan mungkin dihadapi seorang diri oleh guru. Diperlukan guru lain yang memiliki keahlian sama ataupun beda untuk mengembangkan peserta didik yang ada di kelas dengan maksimal.

Seorang guru sangat mustahil akan mampu membawa perubahan pada diri peserta didik dalam aspek nilai agama, nilai sosial, kognitif, dan psikomotor. Tidak ada guru yang memiliki kompetensi sempurna. Dengan demikian, guru juga tidak akan mampu menyempurnakan kompetensi peserta didik seorang diri. Bukan peer teaching lagi yang dijadikan wadah bagi guru untuk diskusi tentang pembelajaran, tetapi lebih dari itu yaitu many teaching.

Peran Guru

Dalam pembelajaran yang diterapkan dengan model apa pun melibatkan lebih dari satu guru. Jumlah guru yang berada di kelas bergantung pada karakter yang dimiliki peserta didik. Inilah pentingnya guru memahami akan konsep desain pembelajaran. Guru yang tidak memahaminya akan menjalankan tugas mengikuti pola yang sudah terbiasa dilakukan secara rutin. Apa yang dilakukan hari ini akan terulang kembali pada tahun-tahun berikutnya. Apabila kita melaksanakan pembelajaran saat ini sebagaimana kita melaksanakan pembelajaran di masa lalu, artinya kita merampas masa depan peserta didik (John Dewey).                                             

Dalam model many teaching, jumlah guru pendamping tidak sama untuk setiap kelas, bergantung pada kelompok kategori kemampuan awal siswa dan gaya belajar siswa. Dalam kelas model memiliki satu guru penanggung jawab kelas dan guru pendamping baik dari aspek materi dan psikologis. Guru akan mengakomodasi kebutuhan setiap peserta didik dalam pembelajaran, karena selama guru penanggung jawab kelas memimpin kelas, guru pendamping akan melayani peserta didik di kelas sesuai dengan kesulitan yang dihadapi.

Kelebihan model ini adalah guru akan selalu belajar dan menciptakan metode-metode baru dalam pembelajaran, karena setiap kelas menuntut perlakuan pembelajaran yang berbeda. Dengan demikian, akan memicu kreativitas guru untuk pengembangan keprofesionalitasnya secara berkelanjutan. Guru akan tercukupi jumlah jam mengajar di sekolahnya sendiri, tidak perlu mengajar di sekolah lain.

Pendidikan yang bermutu akan tercapai dari kebijakan yang membiasakan guru untuk bertindak kreatif, tidak meniru perangkat pembelajaran dari guru atau sumber lain, dan tidak akan terjadi satu perangkat untuk semua kelas dan sekolah.

Akhirnya, negara tidak akan sia-sia memberi tunjangan profesi kepada guru, karena guru bekerja secara profesional dan selalu berorientasi pada mutu. Mudah-mudahan, tidak ada lagi kebijakan yang hanya sekadar bersifat sesaat dan hanya untuk kepentingan tertentu.

Komentar