Lampung

Ratusan Umat Hindu Gelar Ngaben di Gadingrejo

Wakil bupati Pringsewu Fauzi menghadiri prosesi ngaben yang di gelar di Pekon Mataram, mulai Rabu-Kamis (15-16/8). Dok. Humas Pemda Pringsewu.

PRINGSEWU (Lampost.co) -- Wakil Bupati Pringsewu Fauzi dan Kapolres Tanggamus AKBP I Made Rasma menghadiri prosesi Ngaben atau entas-entas umat Hindu di Pekon Mataram, Kecamatan Gadingrejo, Kamis (16/8/2018).

Upacara Ngaben yang merupakan tradisi umat Hindu, berlangsung selama dua hari, 15-16 Agustus.



Menurut Kapolres, bagi umat Hindu selaku ahli waris berkewajiban untuk mengamben leluhurnya. "Polres mengapreasi upacara Ngaben massal (6 entas-entas dan 9 ngamben) yang merupakan pertama kali dilaksanakan di Kabupaten Pringsewu," kata AKBP I Made Rasma.

Menurut Kapolres pengamanan terhadap kegiatan ini telah disiapkan mulai dari prosesi ngamben (penggalian), kremasi hingga upacara terakhir di Pantai Kota Agung. "Saya juga mengapreasi Pekon Mataram sebagai Pekon Pancasila mudah- mudahan ini bisa dicontoh pekon lain bahkan di tingkat Nasional," kata Kapolres.

Sementara Wakil Bupati Pringsewu Fauzi, mengatakan atas nama pemerintah Kabupaten Pringsewu menyambut baik proses ngaben ini. Menurut dia, Pekon Mataram layak disebut sebagai Pekon Pancasila karena warganya yang mengedepankan Kebhinnekaan.

"Luar biasa kawan-kawan muslim dan umat katolik ikut di Pekon Mataram yang ikut berpartisipasi, dalam rangka menyukseskan upacara Ngaben ini," ungkap Fauzi.

Pantauan di lapangan, ratusan Umat Hindu di Pekon Mataram, Kecamatan Gadingrejo, secara khuyuk mengikuti prosesi upacara Pitrayadnya (Ngaben/pengentas entas) di TPU Dusun Banjar Rejo pekon setempat yang dimulai sejak Rabu (15/8).

Prosesi Ngaben dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan umat Hindu kepada leluhur mereka untuk mencapai sorga dan menyatu dengan sang Hiyang Widiwasa. Dalam pelaksanaan Ngaben, galeh (tulang belulang) digali dan dikumpulkan dari pemakaman/setra untuk selanjutnya dibersihkan, disucikan dan didoakan lalu di aben (kremasi) agar bisa kembali kepada alam (5 zat) yakni tanah, air, api, angin, dan akasa atau ruang alam.

Pandita Dangguru Sweja Darma selaku pemimpin prosesi upacara menjelaskan umat Hindu memiliki 5 upacara Pitrayadnya, diantaranya berbakti kepada Tuhan, kepada roh leluhur supaya lepas dari ikatan duniawi, sesama manusia, alam semesta dan penobatan seorang pandita.

“Yang bisa melakukan upacara Ngaben hanya Pandita yang sudah mengikuti upacara Pitrayadnya,” ungkapnya.

Menurut Pembina Pendeta Hindu Lampung ini, ada 16 makam yang akan di Ngaben, tapi hanya 9 makam yang digali dan diambil tulang belulangnya, sedangkan 6 makam lagi hanya diambil tanah/ilalang sebagai simbol.

 

Komentar