Opini

Potret Teladan Keluarga Nabi Ibrahim 

Ilustrasi (Youtube)

SALAH satu yang amat kita butuhkan dalam menjalani kehidupan yang baik adalah keteladan dari sosok orang yang bisa diteladani. Dengan adanya keteladanan, kita memiliki tolok ukur untuk menilai apakah perjalanan hidup kita sudah baik atau belum. 
Karena itu, pada bulan Zulhijah ini, kita kenang kembali manusia agung yang diutus oleh Allah swt untuk menjadi nabi dan rasul, yakni Nabi Ibrahim as beserta istrinya, Siti Hajar, dan putarannya, Ismail as. Keagungan pribadinya membuat kita semua mesti mengambil keteladanan darinya sebagaimana Allah swt sebutkan dalam Alquran, “Sesungguhnya, telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia.” (QS Al Mumtahanah: 4).
Tiga Pelajaran Berharga
Dari sekian banyak hal yang mesti kita teladani dari Nabi Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya serta mengambil hikmah dari rekam jejak perjalanan hidupnya, sedikitnya ada tiga pelajaran berharga yang menjadi isyarat bagi kita untuk mewujudkannya dalam kehidupan ini. 
Sebagaimana keinginan Nabi Ibrahim as yang tecermin dalam doanya, "Ya, Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian.” (QS As Syu’ara: 83—84).
Ayat itu mengandung makna simbolis yang mendalam. Pertama, substansi doa yang diinginkan Nabi Ibrahim adalah memiliki ilmu. Dengan ilmu manusia bisa saja masuk surga dengan selamat dan dengan ilmu pula manusia bisa saja masuk neraka jika ilmunya digunakan untuk hal-hal yang negatif, bahkan memperoleh siksa yang lebih dahsyat. Rasulullah saw bersabda, “Orang yang paling keras siksanya pada hari kiamat adalah orang yang berilmu tapi tidak dimanfaatkannya.” (HR Thabrani).
Kedua, intisari doa Nabi Ibrahim as adalah meminta kepada Allah swt agar dimasukkan ke dalam golongan orang yang saleh. Ibrahim adalah seorang nabi yang sudah pasti saleh, tapi masih saja ia berdoa agar dimasukkan ke dalam kelompok orang yang saleh. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya menjadi orang saleh dan beliau tidaklah merasa tinggi hati dengan kesalehannya, hingga akhirnya ia tetaplah berdoa meminta dimasukkan ke dalam golongan orang saleh. 
Ketiga, Nabi Ibrahim as berdoa agar menjadi buah tutur yang baik bagi orang-orang yang datang kemudian. Tentu, sebagai seorang Nabi, Ibrahim as tidak berucap atau bertindak yang buruk kepada keluarga dan kaumnya meskipun begitu beliau khawatir bila ada saja orang yang membicarakan keburukannya. Karena itu, kesempatan hidup kita yang amat terbatas seharusnya digunakan untuk membuat sejarah hidup yang mulia, sehingga menjadi bahan pembicaraan yang baik bagi generasi berikutnya. Manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.
Dari uraian itu, dapat kita ambil pelajaran berharga bahwa meneladani Nabi Ibrahim as yang ajarannya terus dilestarikan dan dikembangkan oleh Nabi Muhammad saw meniscayakan kita untuk selalu berusaha memperbaiki diri dan keluarga serta memperbaiki orang lain untuk selanjutnya terus bergerak dalam menegakkan nilai-nilai kebenaran dan mau berkorban untuk mencapainya.
Arti Pengorbanan
Kisah keluarga Nabi Ibrahim sarat akan pesan-pesan moral. Nabi Ibrahim adalah simbol bagi manusia yang rela mengorbankan apa saja demi mencapai keridaan Tuhan, rela menyembelih anaknya, bahkan rela mengorbankan diri dalam kobaran api.
Setiap orang mempunyai kelemahan terhadap sesuatu yang dicintainya. Kelemahan Nabi Ibrahim terletak pada anak kesayangannya yang sudah lama didambakannya. Dari sini pula dia kembali diuji oleh Allah berupa godaan setan, tetapi Nabi Ibrahim lulus dari ujian itu. Ia secara tulus dan ikhlas mau mengorbankan putra kesayangannya. 
Sementara itu, Nabi Ismail adalah simbol bagi sesuatu yang paling dicintai dan sekaligus berpotensi melemahkan dan menggoyahkan iman, simbol bagi sesuatu yang dapat mengajak kita untuk berpikir subjektif dan berpendirian egois. Mari kita mengintrospeksi dan mengukur diri kita masing-masing. Betapa mulia sosok Nabi Ibrahim, yang demikian tangguh keimanan dan komitmennya dalam memegang prinsip-prinsip hidup, dengan menunjukkan pengorbanan yang optimal ke jalan yang diridai Allah swt. 
Jika kita, misalnya, sedang berada di puncak karier, sudah relakah kita mengorbankan segalanya demi mempertahankan prinsip-prinsip ajaran yang dianut? Apakah kita sudah rela mengorbankannya untuk mencapai tujuan hidup yang sebenarnya, yaitu mencapai rida Allah? 
Jika kita sebagai suami, sudah sanggupkah kita meniru ketangguhan iman Nabi Ibrahim? Jika kita sebagai istri, sudah sanggupkah kita meniru ketabahan Siti Hajar? Jika kita sebagai anak, sudahkah kita memiliki idealisme yang setangguh Nabi Ismail? Semua pertanyaan di atas, yang bisa menjawabnya adalah masing-masing kita. 
Makna Simbolis
Kisah-kisah yang ditampilkan Alquran patut menjadi pembelajaran buat kita semua. Nabi Ibrahim melahirkan anak paling sejati disebutkan dalam Alquran (QS al-Shaffat: 102). Ismail, bagi Nabi Ibrahim, bukan hanya sebagai anak biologis, melainkan sekaligus anak spiritual. Bandingkan dengan putra Nabi Nuh, meskipun ia seorang putra biologis nabi, ia menjadi pembangkang dan kufur. Itulah sebabnya putra Nabi Nuh dicap hanya sebagai anak biologis, tetapi bukan anak spiritual ayahnya (QS Hud: 46). 
Firaun adalah sosok manusia paling angkuh yang tersebut dalam Alquran, tetapi istrinya mendapatkan pujian sebagai istri salihah yang beriman (QS At-Tahrim: 11). Bandingkan dengan istri paling pengkhianat dalam Alquran ternyata istri Nabi Luth dan Nabi Nuh (QS At-Tahrim: 10). Ini merupakan pelajaran penting buat kita bahwa kehebatan atau kelemahan sosok pribadi dalam keluarga bukan jaminan bagi keluarga lainnya untuk melakukan hal yang sama. 
Pada Iduladha nan agung yang sudah di depan mata ini, mari kita jadikan sebagai momentum yang baik untuk mempersiapkan generasi yang berkualitas, suatu generasi yang betul-betul terpilih (the chosen people) atau umat pilihan (khairu ummah) menurut istilah Alquran (QS Ali Imran: 110).
Alquran memberikan peringatan bagi kita agar tidak meninggalkan generasi lemah dan tidak punya daya saing, “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka generasi yang lemah…” (QS An-Nisa: 9). Sebaliknya, Alquran memberikan dorongan untuk mempersiapkan generasi yang betul-betul profesional, memiliki kemampuan kompetisi yang andal, generasi yang kuat, dan tepercaya. (QS Al-Qashash: 26).
Generasi al-qawiyyul amin menurut ulama tafsir ialah generasi yang sehat jasmani dan rohani, serta memiliki berbagai kecerdasan, keterampilan, dan keunggulan, di samping kejujuran dan amanah. Dengan demikian, generasi yang kita persiapkan ialah generasi al-qawiyyul amin, yakni generasi tangguh dan terpercaya yang mampu membawa kemaslahatan fiddini, waddunya hattal akhirah. Amin.
 

Komentar