Buras

Pertamina dan Kemandirian Energi!

H. Bambang Eka Wijaya. (Dok. Lampost.co)

KALAUPUN ada orang yang paling jarang memikirkan kemandirian energi di negeri kita, mungkin dia itu adalah direktur utama (dirut) Pertamina. Buktinya, sepanjang dua dekade ini negeri yang dahulu anggota pengekspor minyak (OPEC), kini menjadi pengimpor untuk separuh dari konsumsinya.

Itulah salah satu penyebab kenapa defisit neraca berjalan (current account deficit) kuartal II 2018 menyentuh 3% dari PDB. Itu, terjadi ketika harga BBM yang diimpor melonjak dari kisaran 50 dolar AS/barel, menjadi 70-an dolar AS/barel.



Karena itu, wajar jika ketika menetapkan Nicke Widyawati sebagai dirut Pertamina, Presiden Joko Widodo perlu menekankan tugas khusus sang dirut baru agar membawa Pertamina menuju kemandirian energi.

Untuk mencapai kemandirian energi itu, sebelumnya penerintah telah mengambil alih Blok Mahakam dari pengelola asing yang habis masa kontrak kerjanya dan menyerahkan itu kepada Pertamina untuk mengelolanya. Sama halnya dengan Blok Natuna, kemudian Blok Rokan (Riau) yang tahun depan masa kontrak kerja pengelola dari AS berakhir.

Juga diserahkan pengelolaannya ke Pertamina delapan wilayah pengembangan (WP) hasil eksplorasi baru, termasuk Blok Masela.

Menurut Sekretaris Kabinet Pramono Anung, dengan terpilihnya Nicke sebagai dirut diharapkan Pertamina segera mereformasi dan berbenah diri. Karena Pertamina sekarang mendapat penugasan yang luar biasa untuk menggarap blok-blok yang dipercayakan pemerintah demi mencapai target peningkatan produksi mencapai satu juta barel per hari (bph). (detik.com, 29/8)

Untuk mencapai kemandirian energi dimaksud, selain meningkatkan produksi hingga setara konsumsi, yang harus diprioritaskan adalah investasi membangun banyak kilang baru di dalam negeri. Karena selama ini produksi dari dalam negeri juga harus diolah di luar negeri, sehingga biayanya tinggi.

Memang perlu waktu, kerja keras dan keberanian untuk mencapai tingkat produksi dan pengolahan yang menjamin kemandirian energi. Tapi jika itu tercapai, bukan saja harga BBM bisa lebih sesuai bagi rakyat, melainkan juga dari proses produksinya itu sendiri bisa mengembalikan modal yang dipakai untuk itu, juga menghasilkan nilai tambah guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Salah satu hal yang pasti dengan digarap sendiri blok-blok migas yang ada serta pengolahannya itu akan menampung lebih banyak tenaga kerja anak negeri sekaligus meningkatkan skill mereka menangani sumber-sumber kekayaan alam negeri tercinta.

Komentar