Ramadan

Perjuangan Ratusan Muslim Pencari Lailatul Qadar

Umat muslim beritikaf di masjid Addua guna menggapai lailatul qodar. (foto:lampost/effran)


BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)--Lantunan suara-suara merdu ayat suci Alquran semakin mendengung indah di Masjid Addua, Way Halim, Minggu (10/6/2018) dini hari. Pada malam ke-25 bulan Ramadan ini ratusan masyarakat memenuhi rumah ibadah dibilangan Jalan Sultan Agung, Way Halim, Bandar Lampung sebagai perjuangan mendapatkan keistimewaan Lailatul Qadar.
Semakin larutnya keheningan malam dan ditengah jutaan warga terlelap tidur, masjid tersebut tidak menjadi sepi, tetapi justru semakin dipenuhi perempuan dan pria di segala usia. Sebab, untuk mendapatkan Lailatul qodar itu dilakukan oleh baik anak dibawah umur, remaja, maupun lanjut usia.
Ratusan pejuang Lailatul Qadar itu beri'tikaf dan berdiam diri didalam masjid dengan melaksanakan segala ibadah, seperti membaca kitab suci Alquran, mengerjakan salat-salat sunah, majlis taklim yang digelar pengurus masjid sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah sang maha pencipta.

Kegiatan itu dilakukan disepanjang malam hingga menjelang sahur. Kegiatan itikaf itu juga didukung penuh dengan pengurus takmir masjid dengan memberikan ruang bagi jemaah yang hendak tidur sebagai istirahat disela ibadah hingga memfasilitasi makanan sahur.
Galih (21) mengatakan dirinya beri'tikaf untuk pertama kalinya di Ramadan tahun 2018 ini dan memilih menjalani ibadah tersebut di masjid Addua, karena yang melaksanakan ditempat tersebut sangat ramai. Faktor tersebut membuatnya lebih bersemangat menjalankan ibadah.
"Melihat ramai begini saya jadi lebih semangat. Saya ini sama teman-teman. Harapannya saya mendapatkan Lailatul Qadar yang keistimewaannya seperti menjalani ibadah selama 1000 bulan dan itu setara dengan 83 tahun," kata Galih di sela-sela itikaf.
Sementara itu, Ustad Yahya mengatakan dikehidupan dunia yang sementara ini selayaknya dapat dijadikan sebagai medan beramal dan mempersiapkan diri menuju kehidupan selanjutnya yang kekal abadi didalamnya, yaitu akhirat. Membawa perbekalan sedikit dan tidak berkualitas akan membuat kehidupan yang kekal itu tidak bisa tenang dan bahagia. 
"Kejarlah ketenangan hidup yang kekal itu dengan memperbanyak amal ibadah. Jangan sia-siakan masa, umur, tenaga, dan kekayaan yang dimiliki. Sebab, semua itu amal, ibadah, kebajikan yang kita lakukan semasa didunia ini lah yang menjadi pertukaran gas sebagai kebahagiaan diakhirat kelak," tuturnya.

Komentar