Tumbai

Nyakak Manuk (3)

Budaya Lampung. (Foto:Dok.Lampost.co)

SESAMPAI di tempat yang dituju (rumah orang tua si gadis), biasanya rombongan berangkat selepas magrib, akan dilangsungkan hal-hal sebagai berikut. Pertama, perwatin atau punyimbang (tua-tua adat) yang membawanya langsung naik ke rumah orang tua si gadis. Adapun satu atau dua punyimbang atau perwatin lainnya bersama si mekhanai yang sambil menunggu di luar rumah duduk berkerudung bidak tuha.

Setelah punyimbang atau perwatin yang naik tadi diterima orang tua gadis, langsung menyerahkan sigeh dan cemeti. Setelah itu menyampaikan sepatah dua patah kata tentang maksud dan tujuan kedatangan mereka ke sana (tetangguh).



Usai kata-kata tetangguh, si mekhanai yang tadi menunggu di luar rumah kemudian masuk atau naik ke rumah dengan menggepit ayam jago dan menyerahkan ayam jago tersebut kepada orang tua si gadis. Penyerahan ayam ini maksudnya secara simbolik menyerahkan diri sambil menyebutkan nama, anak siapa, serta kampungnya berada di mana.

Si mekhanai kemudian menyerahkan punduk yang telah dibawanya sebagai lambang kepasrahan dan siap menerima apa saja konsekuensi yang ditimpakan kepadanya walau harus mati sekalipun.

Demikianlah dengan segala cara dan daya upaya, baik dengan membujuk secara halus maupun dengan cara-cara kekerasan juga ancaman oleh pihak orang tua si gadis, tekad si mekhanai telah bulat dan tidak bergeser sekalipun. Upaya terakhir untuk mengurungkan niat dengan akibat yang bisa fatal bahkan juga datang dari pihak punyimbang atau perwatin yang mengantarkannya. Namun tetap saja si mekhanai terus maju dan bersimpuh menuntut diri dalam kepasrahan total laksana ayam yang rela disembelih.

Biasanya para punyimbang dan perwatin yang mengantar sepenuhnya menyerahkan mekhanai dalam hidup dan matinya. Mereka lalu berpamitan pulang dengan meninggalkan si bujang di tempatnya sendiri dan segala sesuatu yang nanti akan terjadi menjadi kewenangan tuan rumah atau orang tua si gadis.

Dengan pulangnya si pengantar, boleh dikatakan tata cara nyakak manuk secara formal telah dilaksanakan oleh punyimbang atau perwatin dari pihak si mekhanai. Untuk selanjutnya persoalannya berpulang kepada pihak punyimbang atau perwatin dari pihak orang tua si gadis. Proses selanjutnya adalah penyerahan dan pembahasan soal nyakak manuk kepada punyimbang atau perwatin pihak si gadis. n BERSAMBUNG

Komentar