Tumbai

Nuwa Panggung, Rumah Tradisional Lampung (1)

Rumah panggung. (Ilustrasi/Dok.Lampost.co)

RUMAH adalah produk bangunan arsitektur yang bersifat pokok sebagai tempat tinggal dan tempat bernaung untuk dapat bertahan hidup dan berkembang. Dalam perkembangannya rumah bukan hanya sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai pusat utama titik awal dari kebiasaan dalam suatu pergaulan masyarakat.

Begitu halnya dengan orang Lampung. Lampung yang kaya dengan keberagaman nilai-nilai sosial dan adat istiadat melahirkan seni budaya, baik dari segi sastra, busana adat, aksara, maupun arsitektur bangunan. Dengan adanya keberagaman tentu saja beragam pulalah bentuk fisik bangunan yang sesuai dengan kaidah dan tradisi masing-masing, bangunan tersebut sebagai bangunan tradisional. Sebab, mengamati sebuah bentuk fisik bangunan tradisional sama dengan mengamati nilai-nilai budaya yang tumbuh dari dalam masyarakat.



Di Lampung ada bermacam-macam nama rumah dan fungsinya yang berbeda satu sama lain, antara lain nuwa atau nuwo atau lamban yang merupakan rumah yang fungsinya sebagai tempat tinggal dan letaknya berada di tiyuh, anek, atau pekon.

Ada nama tempat tinggal lain yang namanya sapu. Sapu merupakan rumah tempat tinggal yang letaknya di umbul. Adapula rumah yang dinamakan dengan kubu yang merupakan tempat tinggal di huma atau ladang perkebunan. Adapun rumah sebagai tempat untuk musyawarah dan upacara adat disebut sebagai sessat atau bantaian.

Fungsi utama sessat adalah sebagai tempat bermusyawarah, balai pertemuan para tokoh adat (perwatin) untuk melaksanakan pumpung adat atau musyawarah adat, sidang adat. Juga tempat diselenggarakannya acara-acara adat, seperti begawi, cakak pepadun atau mupadun, dan canggot.

Nuwa adalah rumah tempat tinggal keluarga di wilayah tiyuh atau pekon atau bisa masuk dalam wilayah yang jumlah penduduknya telah banyak seukuran desa atau kelurahan. Istilah nuwa juga bermacam-macam, seperti nuwa tuha, nuwa balak, atau nuwa gedung yang berarti rumah tua dan rumah besar yang mempunyai fungsi sebagai rumah punyimbang penerus serta pewaris pusaka keluarga. Sekaligus sebagai tempat berkumpulnya para anggota keluarga dalam setiap acara keluarga dan acara-acara adat. 

Bentuk umum nuwa masyarakat tradisonal Lampung adalah rumah panggung yang tidak terlalu tinggi, kira-kira 1,5 meter tingginya dari tanah dengan bahan utama kayu atau papan. Biasanya tiang-tiang penyangga rumah atau aghi bagian bawah tidak ditanam ke tanah, tetapi hanya bertumpu ke batu. Dilihat selintas tumpukan pada batu ini akan membuat struktur bangunan secara keseluruhan akan menjadi goyah, tetapi justru di sinilah letak kelebihan bangunan tradisonal Lampung pada umumnya.

Selain berfungsi untuk menghindari kelapukan pada tiang kayu, batu landasan juga berfungsi agar tiang struktur lebih lentur menghadapi gaya horizontal yang bekerja pada saat terjadi gempa.

Apabila diurutkan tingkatannya, dilihat dari atas nuwa panggung terdiri dari lima bagian utama. Pertama, hatok (atap rumah), kedua penaku (bawah atap rumah di atas plafon), ketiga sesai (dinding), keempat aghi (tiang), dan yang kelima bah (bawah rumah).

Komentar