Tumbai

Ngelepok (2)

Pakaian adat Pepadun. (Foto:Google Image)

NGELEPOK adalah membagikan kue ketan manis yang dilakukan oleh muda-mudi (muli-mekhanai) dari rumah ke rumah sebagai bentuk pemberitahuan sekaligus undangan untuk para gadis di kampung agar datang menghadiri acara canggot, yang akan dilaksanakan pada malam harinya di tempat mempelai atau pengantin.

Ngelepok merupakan ritus adat istiadat yang memiliki peran dan fungsi sebagai ritual dalam upacara adat sekaligus juga sebagai bentuk pelestarian bahasa lisan, pengenalan makanan tradisional, serta penggunaan busana muli-mekhanai saat membagikan kue (siwok). Pelestarian bahasa lisan karena muli dan mekhanai yang membagikan siwok wajib menggunakan bahasa Lampung dengan kosakata yang sudah baku diucapkan ketika berkunjung dari rumah satu ke rumah yang lain.



Berikut ini adalah contoh kata yang wajib disampaikan oleh muli-mekhanai ketika membagikan siwok: “Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, hiji siwok lepok jak pok Tuan Ratu Pesirah Tiyuh Negara Ratu haga canggot tini bingi. Kilu ramik kilu ragom. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh." Artinya, ini siwok lepok dari Tuan Ratu Pesirah yang berada di Kampung Negara Ratu akan mengadakan canggot nanti malam. Mohon dihadiri dan dimeriahkan”.

Siwok dibagikan beberapa kampung atau beberapa tiyuh mekungsi dan beberapa tiyuh lain yang masih berada dalam jangkauan tempat adanya acara canggot untuk ngeramikragomi (meramaikan) acara. Banyaknya siwok biasanya sebanyak 200 buah atau 400 buah menyesuaikan jumlah muli yang akan diundang untuk memeriahkan acara canggot malam harinya. Busana yang dipakai mekhanai saat ngelepok menggunakan songkok dan kain tumpal, sedangkan perempuan menggunakan pakaian dan kain lepas menutup lutut. Busana ini juga merupakan bentuk pelestarian penggunaan pakaian adat, selain bahasa dan kue tradisional berupa siwok yang telah dibagikan.

Ngelepok adalah salah satu tradisi Lampung tumbai yang hingga saat ini masih tetap dilestarikan, terutama di tiyuh-tiyuh masyarakat adat Lampung Pepadun. Tradisi mengundang dengan konsep ngurau, yaitu mengundang muli-mekhanai untuk hadir dengan membagikan kue tradisional dan mengajak datang menggunakan tutur bahasa lisan Lampung secara langsung disampaikan merupakan salah satu bentuk upaya penjagaan pelestarian bahasa lisan Lampung yang saat ini makin sedikit penuturnya.

Strategi kontemporer dalam pelestarian adat budaya Lampung itu bisa saja dilestarikan dengan bentuk yang berbeda, yaitu model festival budaya adat tanpa harus menunggu canggot bara, canggot Lebaran, atau canggot karena adanya upacara pernikahan.

Kegiatan tersebut dapat saja dilakukan sebagai salah satu rangkaian acara rutin daerah yang diadakan oleh pemerintah daerah untuk menarik minat wisatawan, baik wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara. 

Komentar