Tajuk Lampung Post

Membumikan Ekonomi Syariah

Ilustrasi (Dok/Finansialku)

PERSENTASE penduduk muslim di Indonesia hingga mencapai 85% tidak memberi jaminan perekonomian syariah berkembang pesat. Bahkan, dalam beberapa tahun terakhir ekonomi syariah di Tanah Air seperti jalan di tempat.

Kehadiran UU No 21/2008 tentang Perbankan Syariah satu dekade silam semestinya menjadi angin segar bagi eksistensi bank syariah. Semestinya pula perbankan syariah mampu menjadi perbankan alternatif dengan peran dominan bagi masyarakat.



Faktanya, jika dibanding dengan negara-negara di Asia, ekonomi syariah di Indonesia masih jauh tertinggal. Aset perbankan syariah di negeri ini berkutat di level 5%. Bandingkan dengan Malaysia yang bertengger di angka 20% dan hingga kini terus berkembang.

Thailand saat ini mampu mengekspor 25% bumbu halal. Sementara itu, Australia menjadi negara penghasil daging halal terbesar. Masih di Asia, Jepang mampu membangun pariwisata dan kuliner halal.

Amat wajar dalam high level meeting di Bappenas, Juli lalu, Gubernur Bank Indonesia menyatakan keprihatinannya atas perkembangan ekonomi syariah di Tanah Air. Indonesia justru masih menjadi pengimpor produk-produk syariah.

Karena itulah, kita mendukung langkah pemerintah mengembangkan ekonomi syariah. Salah satunya menggelar event nasional Festival Ekonomi Syariah Regional Sumatera 2018 di Lampung yang berlangsung pekan lalu dan berakhir Minggu (5/8).

Bank Indonesia Perwakilan Lampung menyatakan Sumatera memiliki potensi besar sebagai penopang perkembangan ekonomi syariah di Indonesia. Selain berada di posisi strategis, Sumatera juga memiliki 2.150 pesantren yang dapat menjadi poros ekonomi syariah.

Kita optimistis dengan dukungan pemerintah, ekonomi syariah nasional terus akan  bertumbuh. Potensi nilai kerja sama lebih lanjut dalam festival kemarin mampu mencapai Rp85 miliar. Angka ini diharapkan mampu mendorong percepatan perekonomian syariah.

 

Nilai kerja sama itu dapat menjadi pendongkrak potensi produk daerah di Sumatera hingga dapat berdaya saing dengan produk asing. Perilaku sebagai negara pengguna atau pengimpor produk halal harus diubah menjadi negara yang produktif.

Keberadaan ribuan pesantren di Sumatera, termasuk di Lampung, semestinya dapat menjadi variabel pendongkrak ekonomi syariah di sektor usaha mikro, kecil, dan menengah. Pesantren perlu dibina menjadi UMKM dengan menghasilkan berbagai produk halal.

Di Lampung, Otoritas Jasa Keuangan mencatat sebaran jaringan kantor bank umum syariah dan unit usaha syariah Desember 2017 mencapai 10 unit kantor pusat operasional, 30 kantor cabang pembantu/unit pelayanan syariah, serta 2 kantor kas.

Keberadaan berbagai unit perbankan syariah tersebut semestinya menjadi penopang unit-unit usaha syariah dengan meningkatkan peran serta masyarakat dan pesantren menumbuhkan sumber ekonomi baru serta perluasan lapangan kerja sektor syariah.

Dunia syariah juga harus sejalan dengan perkembangan industri 4.0 yang mengedepankan laku ekonomi berbasis digital. Serta mampu mengajak anak-anak muda kekinian untuk berkecimpung dalam ekonomi syariah melalui sektor ekonomi kreatif.

Komentar