Tajuk Lampung Post

Melindungi Petani Kopi

Biji kopi. (foto:dok.Lampost.co)

KOPI merupakan salah satu komoditas unggulan di Provinsi Lampung. Bahkan, produksi kopi robusta secara nasional sebanyak 70% di antaranya dipasok dari Lampung.

Perkebunan kopi di Provinsi Lampung luasannya pun tidak main-main, yakni sekitar 163 ribu hektare. Dari jumlah lahan itu, ada 230 ribu kepala keluarga yang hidup bergantung pada komoditas ini. Kondisi tersebut membuat Lampung menjadi barometer yang sangat strategis untuk komoditas perkopian di Tanah Air dan bahkan dunia.



Indonesia menduduki posisi keempat produsen kopi terbesar di dunia. Berdasar pada data Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) ekspor biji kopi robusta secara nasional sebanyak 350 hingga 400 ribu ton. Dari jumlah itu Lampung menyumbang sekitar 170 ribu ton biji kopi robusta untuk diekspor. Produksi kopi di Lampung juga memenuhi kebutuhan di sejumlah negara seperti Jerman, Amerika, Prancis, Inggris, dan beberapa negara Asia.

Negara-negara yang menjadi tujuan ekspor kopi lampung itu diketahui saat perhelatan Festival Kopi pada Juli 2018. Pada event itu, sebanyak 20 ton atau satu kontainer kopi lampung dikirim ke negara di Eropa dan Amerika melalui PT Louis Dryifus.

Ini merupakan ekspor pertama petani kopi yang langsung melalui eksportir dan langsung pengiriman ke luar negeri. Dengan adanya pembelian langsung melalui petani tersebut, sejatinya diharapkan dapat memutus mata rantai pemasaran kopi lampung.

Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Lampung bahkan sempat berkomitmen untuk terus mengembangkan produksi kopi di sejumlah wilayah di Sang Bumi Ruwa Jurai. Setelah Lampung Barat, konon produksi kopi di Kabupaten Way Kanan dan Tanggamus juga diproyeksikan untuk bisa langsung ekspor ke luar negeri.

Namun, upaya-upaya strategis dan besarnya kontribusi para petani kopi di Lampung untuk nasional dan dunia, ternyata belum cukup mampu mendongkel harga komoditas unggulan tersebut. Faktanya, harga kopi di tingkat petani justru tersungkur di level harga berkisar Rp19 ribu—Rp21 ribu/kg rata-rata setiap musim. Kondisi ini pun membuat para petani lebih memilih menyimpan hasil panennya.

Di sejumlah wilayah di Lampung Barat, sejak beberapa tahun ini terlebih saat musim panen tiba harga kopi selalu rendah. Situasi yang berbanding terbalik dengan kontribusi dan kerja keras mereka untuk memenuhi kebutuhan kopi nasional dan dunia.

Kondisi seperti ini tentunya tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Pemerintah dan para pemangku kepentingan harus bergerak cepat mencarikan solusi agar harga kopi tidak makin anjlok. Terlebih, di tengah keterpurukan nilai tukar rupiah saat ini yang menyentuh level kisaran Rp14.800 per dolar AS.

Pemerintah bersama para pemangku kepentingan harus mampu menjaga stabilitas harga kopi. Salah satunya mungkin bisa melalui kebijakan regulasi yang mengatur para pengusaha dalam negeri untuk semaksimal mungkin menyerap kopi lokal.

Regulasi yang mengatur pasokan impor kopi dari negara luar penting dilakukan dalam menjaga stabilitas harga kopi dalam negeri. Meski demikian, para petani kopi juga harus mampu menjaga produksinya dengan kualitas terbaik. Mengabaikan kualitas kopi sama halnya dengan bunuh diri karena bakal kalah bersaing dengan produk impor.

Apabila kualitas kopi dalam negeri terjaga dengan bagus, tidak ada alasan bagi para pengusaha untuk tetap melakukan impor kopi dari luar negeri.

Pemerintah juga harus bisa memaksimalkan perannya menjaga kualitas kopi dengan memberikan berbagai penyuluhan kepada para petani. Selain itu, pemerintah juga harus konsisten melindungi para petani kopi melalui pemberian modal suntikan dana segar. Kemudahan dalam mendapatkan modal diharapkan tidak makin membuat para petani terpuruk makin dalam akibat anjloknya harga kopi saat ini.

Komentar