Opini

Media Penangkal Radikalisme

Ilustrasi (Foto: Dok/Klikwarta)

RADIKALISME terus membayangi kehidupan berbangsa dan bernegara. Tidak terkecuali Provinsi Lampung yang menjadi ladang empuk bagi kaum radikal bahkan kini menjadi daerah dengan tingkat potensi radikalisme cukup tinggi. Sebagai pintu masuk Sumatera, dengan penduduk beragam menjadikan Lampung ladang subur persemaian radikalisme.

Berdasarkan hasil survei Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) November 2017, menyebutkan Lampung menempati urutan keempat pada tingkat potensi radikalisme. Potensi tertinggi di atas Lampung ada di Bengkulu (58,58%), Gorontalo (58,48%), dan Sulawesi Selatan (58,42%). Adapun Lampung 58,38% diikuti Kalimantan Utara (58,30%).



Hasil penelitian itu tentu di luar dugaan banyak pihak karena selama ini pergerakan kaum radikal di Lampung tidak begitu menonjol. Namun, adalah fakta yang tidak dapat dimungkiri, berdasar pada penyelidikan Polda Lampung terdapat 101 orang di Lampung yang terindikasi sebagai simpatisan ISIS, gerakan radikal berskala internasional.

Keprihatinan publik ternyata tidak hanya sampai di situ karena hasil penelitian BNPT juga menunjukkan mereka yang terjerembab dalam paham radikal ternyata juga mengenyam pendidikan, mulai dari menengah atas hingga perguruan tinggi, yakni terdiri atas lulusan SMA (63,6%), DO (drop out/dikeluarkan) dari perguruan tinggi (5,5%), serta lulusan perguruan tinggi (16,4%).

Kita harus prihatin. Radikalisme saat ini telah menjangkiti pada anak-anak muda yang cenderung mudah menerima doktrin. Apalagi strategi penyebaran ideologi radikalisme dilakukan melalui komunikasi langsung. Melalui perkawinan, kegiatan dakwah, penerbitan buku, jalur pendidikan, dan media internet yang saat ini memang tengah digandrungi kalangan usia produktif.

Radikalisme menurut bahasa berarti paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis. Namun, dalam artian lain, esensi radikalisme adalah konsep sikap jiwa dalam mengusung perubahan. Adapun radikalisme menurut Wikipedia adalah suatu paham yang dibuat-buat oleh sekelompok orang yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik secara drastis dengan menggunakan cara-cara kekerasan.

Namun, bila dilihat dari sudut pandang keagamaan dapat diartikan sebagai paham keagamaan yang mengacu pada fondasi agama yang sangat mendasar dengan fanatisme keagamaan yang sangat tinggi, sehingga tidak jarang penganut dari paham/aliran tersebut menggunakan kekerasan kepada orang yang berbeda paham/aliran untuk mengaktualisasikan paham keagamaan yang dianut dan dipercayainya untuk diterima secara paksa. Kemudian, yang dimaksud dengan radikalisme adalah gerakan yang berpandangan kolot dan sering menggunakan kekerasan dalam mengajarkan keyakinan mereka.

Islam merupakan agama kedamaian. Islam tidak pernah membenarkan praktik penggunaan kekerasan dalam menyebarkan agama, paham keagamaan, serta paham politik.

Ada radikal kanan dan radikal kiri. Paham ini menghinggapi sebagian masyarakat Indonesia, termasuk pemeluk Islam.

Jika dikaji kembali ke belakang, berkembangnya kelompok-kelompok Islam radikal di Indonesia sebenarnya bukan tanpa sebab. Ada runutan sejarah yang jauh hari di masa sahabat sudah mulai memperlihatkan gejala itu. Khawarij, kelompok pecahan pada era pemerintahan Abbasyiah abad ke-18 tidak terlalu berlebihan kalau disebut sebagai awal mula berdirinya faksi garis keras.

Kekerasan dan pemberontakan tersebut jelas telah menyalahi ajaran agama Islam bahkan telah keluar dari akidah yang sebenarnya, yakni agama Islam tidak mengajarkan kekerasan kepada pihak lain bahkan kepada yang bukan muslim. Islam diajarkan untuk saling rukun dalam kehidupan beragama agar kehidupan sosial antarpemeluk agama bisa saling menghargai antarsesama.

Kelompok radikal dalam memahami agama sangat berlebihan sehingga setan begitu mudah menggoda manusia untuk merusak agamanya. Mughalah atau ghuluw (sikap berlebih-lebihan) berarti tambahan dan melebih-lebihkan. Mughalah dalam beragama adalah sikap keras dan kaku dalam melewati batasan yang diperintahkan dan ditentukan dalam syariat.

 

Lampung Post Menjegal Radikalisme

Peranan Lampung Post dalam menangkal paham berbahaya selama ini sudah diakui publik. Saya mengamati betul sepak terjang koran tertua ini dalam ikut menangkal radikalisme. Sebagai koran yang sudah berusia 44 tahun, Lampung Post sangat dewasa. Tulisan-tulisan yang dimuat baik dalam berita maupun tajuk sangat mencerdaskan. Memberikan perspektif baru, membuat aparat cepat bertindak dan membuat ruang gerak radikalisme menjadi sempit.

Judul dan isi tajuk serta berita sangat tegas dan konsisten mengenai radikalisme. Seperti tajuk yang terbit pada 29 Juli 2017, yang berjudul Kampus Menangkal Radikalisme. Kemudian, Media Sosial Percepat Radikalisme (17 Mei 2018), Tiga Pilar Jadi Pendeteksi Masuknya Radikalisme (30 Mei 2018), Kearifan Lokal Ampuh Menangkal Radikalisme (1 Juni 2018), Mewaspadai Radikalisme di Kampus (5 Juni 2018), dan masih banyak yang lainnya. Lampung Post benar-benar ikut menjaga negeri ini dari bahaya paham radikal dan kita doakan tetap istikamah.

 

DNA Wasathiyah

Radikalisme sangat bertentangan dengan Pancasila yang menghormati dan menghargai kebinekaan sehingga membentengi diri dari arus radikalisme mutlak dilakukan oleh semua pihak. Hal itu bisa dimulai dari tingkat keluarga. Orang tua harus proaktif berkomunikasi dengan anak. Selain peningkatan pemahaman agama.

Menyebarnya paham radikal ini disebabkan ketidaktahuan sebagian masyarakat tentang agama secara komprehensif. Sebab, sesungguhnya umat Islam di Indonesia memiliki DNA wasatiyyat Islam (berasal dari istilah Arab, wasatiyyatul Islam, di Indonesia dikenal dengan Islam wasathiyah). Ini adalah suatu corak pemahaman dan praksis Islam. Ia juga merupakan suatu metode atau pendekatan dalam mengontekstualisasi Islam di tengah peradaban global.

Pemahaman dan praksis keislaman wasathiyah menjadi keniscayaan di tengah tantangan krisis di banyak bagian dunia muslim dan peradaban dunia, yang disebabkan pemahaman dan praksis keagamaan tidak wasathiyah dan perkembangan dunia yang tidak berkeseimbangan dalam berbagai aspek kehidupan, seperti politik, ekonomi, sosial-budaya, sainsteknologi, ilmu pengetahuan, dan lingkungan hidup.

Wasatiyyat Islam juga mendorong adanya islah (reformasi) peradaban sebagaimana makna yang terkandung di dalamnya. Agenda membangun peradaban dunia lebih damai, berkeadilan, dan berkeseimbangan merupakan agenda wasathiyah Islam baik di dunia muslim maupun lingkungan internasional lebih luas.

Dalam agenda membangun peradaban tersebut terdapat pilar-pilar peradaban, seperti agama dan spiritualitas, ekonomi, politik, sains, pranata sosial, serta demografi yang perlu mendapat perhatian khusus. Berbagai pilar tersebut mesti bersatu padu dan bersinergi untuk membangun kembali peradaban baru.

Tanpa agama yang mengandung nilai spritualitas dan etika, niscaya peradaban damai, adil dan berseimbangan tidak dapat terwujud. Dengan sains, berbagai inovasi dan temuan yang berharga.

Selama ini, Lampung Post juga memiliki DNA media wasathiyah. Media yang memiliki prinsip yang kuat, akan tetapi juga menghargai dan mengakomodasi seluruh lapisan masyarakat. Selamat ulang tahun Lampung Post ke 44, semoga makin jaya dan dicintai rakyat.

Komentar