Nuansa

Lisan dan Jempol

Ilustrasi. (Dok. hasmi.org)

JIKA ucapan adalah perak, diam adalah emas. Ungkapan itu mengisyaratkan bahwa diam adalah menyelamatkan dan diam itu lebih baik dari berkata kasar, kotor, tidak ada manfaatnya, tidak mengerti dengan yang diomongkan, apalagi jika kata-kata yang diucapkan lisan itu menyakiti banyak orang.

"Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, hendaklah ia bertutur kata yang baik atau lebih baik diam," (HR Bukhari dan Muslim).



Sekarang tambah lagi, bisa juga begini: jika jempol adalah perak, diam adalah emas. Jempol bisa digerakkan untuk menulis dan menyebarkan informasi melalui media sosial via handphone.

Begitu banyak orang marah dan tersinggung gara-gara jempol. Begitu dahsyatnya nyinyiran sesama anak bangsa gara-gara aksi dukung-mendukung calon presiden maupun ulama idolanya masing-masing. Ada cebong, ada pula kampret.

Menjaga lisan dan menjaga jempol memang sangat sulit, kecuali orang-orang beriman dan meyakini akan adanya hari akhir, yaitu hari penuh perhitungan dan pembalasan.

Perkara ini berat, tidak sedikit persahabatan menjadi retak hanya karena perkataan dan gerakan jempol yang menyinggung perasaan, banyak pertemanan yang akhirnya berujung pertengkaran dan permusuhan.

Ini juga yang dialami negara ini. Hanya karena satu lisan dan gerakan jempol, energi bangsa ini terkuras. Pejabat tidak nyaman, aparat harus siaga ekstra, dan bangsa ini sedang dilanda waswas.

Biasakan berkata dengan bijak dan sesuai pada tempatnya. Sebab, banyak berbicara yang tidak bermanfaat membuat hati menjadi keras. Oleh sebab itu, jika tidak mampu untuk menjaga semua itu, lebih baik diam. Sebab, diam merupakan pilihan paling bijak dan menyelamatkan baik dunia maupun akhirat.

"Makin tinggi ilmu seseorang, makin bijak lisan dan jempolnya," kata Mat Wenger di sebuah warung kopi, bukan warung rokok.

Lisan merupakan salah satu nikmat yang besar, bentuknya kecil dan halus, tetapi di situ terletak kebaikan dan keburukan seseorang. Amat besar pengaruhnya baik positif maupun negatif. Tak terkecuali jempol tangan.

Lisan memegang peranan penting. Dari 77 cabang keimanan, amal lisan adalah yang paling banyak jumlahnya. Oleh karena itu, agama menekankan pentingnya menjaga lisan dalam kehidupan sehari-hari.

Lidah memang tidak bertulang, sekali digerakkan, sulit untuk kembali pada posisi semula. Lidah sering menjadi perkara awal dalam setiap permasalahan manusia. Lidah merupakan nikmat yang sangat besar.

Kebaikan yang diucapkannya akan melahirkan manfaat yang luas dan kejelekan yang dikatakannya membuahkan ekor keburukan yang panjang.

Sebab, dia tidak bertulang, dia tidak sulit untuk digerakkan dan dipergunakan. Dengan lisan dan jempol orang bisa terpilih gubernur, dengan lisan pula orang bisa masuk penjara.

 

Komentar