Weekend

Lakon Ziarah Penuh Makna

Film Ziarah karya sutradara Purba Negara. (Ilustrasi),

LAYAR berwarna putih berukuran 3 x 3 meter persegi membentang di aula Asrama Haji Lungsir, Bandar Lampung. Tidak lama, sebuah tayangan film berjudul Ziarah diputar. Layaknya sebuah bioskop, aula yang disulap menjadi bioskop tersebut tampak gelap dan hening. Semua penonton fokus pemandangan ke depan layar.

Film Ziarah karya sutradara Purba Negara berdurasi 90 menit itu memiliki kesan dan pesan berbeda dari film-film lokal pada umumnya. Tidak hanya itu, pemutaran film Ziarah pada acara screening film itu menjadi berbeda.



Sebab, film ini menjadi salah satu wajah baru perfilman lokal yang sukses menarik perhatian masyarakat umum. Mengangkat cerita dan kisah budaya lokal, film ini sukses di perfilman Indonesia.

"Film ini menjadi semangat dan jalan baru bagi film maker. Semua bisa membuat film panjang," kata co-sutradara film Ziarah, Ridla Annur.

Film itu mengangkat kisah seorang nenek, Sri (90), yang mencari makam suaminya, Prawiro Wahid, yang meninggal pada agresi militer Belanda. Sebagai seorang istri, Sri menganggap perlu menemukan makam suaminya sebelum ia kelak meninggal.

Dalam perjalanannya, Sri yang sudah tidak muda lagi dan mencari makam suaminya seorang diri, membutuhkan waktu berbulan-bulan dari Bantul hingga Wonogiri untuk bisa menemukan makam Prawiro Wahid.

"Suami saya pamit mau perang pada agresi militer Belanda, sampai sekarang tidak ada kabarnya. Saya hanya ingin mencari makam Pak Prawiro, jadi ketika saya mati, saya ingin dimakamkan di sebelahnya. Dan saya bisa menunjukkan makam Pak Prawiro kepada anak cucu saya."

 

Delapan Bulan

Proses pengambilan film ini cukup panjang dan memakan waktu selama delapan bulan. Pengambilan lokasi pun dilakukan di Yogyakarta. Tidak heran, semua dialog menggunakan bahasa Jawa sehingga perlu diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

Peperangan menyebabkan pasangan suami istri ini berpisah. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangat Mbah Sri untuk menemukan makam suaminya. Tekadnya bulat. Dia mendatangi satu permakaman ke permakaman lainnya. Akhirnya, Sri menemukan makam suaminya Prawiro Sahid. Tepat di makam suaminya tertulis sebuah nisan bertuliskan Nyi Prawiro Sahid.

Selama ini suaminya tidak pulang dan telah menikah lagi. Meski demikian, Sri menerima dan lapang dada. Hal itu ditunjukkan dengan menabur bunga, menyapu, dan merawat makam tersebut.

Film yang mengangkat kisah lokal itu memiliki makna universal dan bisa diterima semua masyarakat. Sebab, kisah tersebut bisa menimpa siapa saja. Hal itu yang membuat film Ziarah menembus pasar internasional di festival film lokal.

"Pesan khusus di film ini tidak ada. Kami menyajikan film apa adanya dan kami ingin penonton menikmati film yang kami sajikan. Terserah penonton bagaimana menginterpretasikannya sendiri," ujar Ridla.

Menurutnya, tujuan pemutaran film Ziarah ini memberikan informasi dan pengalaman baru kepada film maker pemula untuk berani membuat sebuah film panjang. "Film Ziarah ini biar jadi pembuka dan memberi jalan agar para film maker sudah punya karya jangan berhenti sampai di sini. Konsisten itu sulit, tetapi yakin bisa," kata dia.

Komentar