Lampung

Kelompok Tani di Tanggamus Dapat Pelatihan Teknologi Bibit Lada

Pembibitan lada milik rakyat di Desa Airnaningan, Kabupaten Tanggamus. Polinela memberi pelatihan teknologi pembibitan lada, yaitu berupa teknologi pembibitan lada dengan cara setek satu ruas berdaun tunggal dan penggunaan mikoriza. Dok/Polinela

KOTA AGUNG (Lampost.co) -- Produksi perkebunan lada milik rakyat di Lampung, khususnya di Desa Airnaningan, Kabupaten Tanggamus, tergolong rendah. Pada 2016, produktivitas lada petani di kelompok Tri Karya dan Setia Jadi berkisar antara 350 - 450 kg/ha/tahun. Angka ini masih rendah dibandingkan dengan standar nasional, yaitu 1.000 kg/ha/tahun.

Peneliti Politeknik Negeri Lampung (Polinela), Made, menuturkan penyebab rendahnya produktivitas tanaman lada, di antaranya petani menanam bibit lada yang tidak standar. Dia menjelaskan penggunaan bibit lada bermutu merupakan investasi yang relatif kecil, tetapi memiliki dampak yang besar pada produktivitas tanaman lada. Pihaknya memberi pelatihan dua kelompok tani yang berada di Desa Airnaningan.



Ia menilai kondisi lahan yang tergolong marginal menambah permasalahan yang dialami petani. Perkebunan lada rakyat umumnya dibudidayakan secara konvensional. Bibit lada yang petani gunakan masih ada yang berasal dari sulur tanah dan sulur gantung.

"Sulur tanah dan sulur gantung merupakan sulur bermutu rendah (inferior) yang tidak baik digunakan untuk bibit. Akibatnya, produktivitas tanaman lada sangat rendah," ujarnya, Minggu (2/9/2018).

Petani lada juga ada yang menanam langsung setek panjang (5 - 7 ruas) tanpa melalui tahap pembibitan di bawah naungan. Tingkat risiko kegagalan bibit untuk hidup cukup besar dan menimbulkan kesulitan karena jumlah kebutuhan bibit yang banyak.

Transfer teknologi kepada petani tentang pembibitan lada yaitu berupa teknologi pembibitan lada dengan cara setek satu ruas berdaun tunggal dan penggunaan mikoriza. Ia menilai perbanyakan dengan cara setek pendek lebih praktis, efisien, dan bibit yang dihasilkan sifatnya sama dengan induknya.

Selanjutnya, penggunaan mikoriza pada tanaman diketahui bermanfaat terutama pada kondisi lahan marginal. Mikoriza merupakan bentuk simbiosis antara cendawan tanah dan akar tanaman.

Tim dosen Jurusan Budi Daya Tanaman Perkebunan Polinela yang terlibat dalam program tersebut, yaitu Made Same, Bambang Utoyo, dan Yan Sukmawan. Kegiatan berlangsung sejak Juni 2018 dan diikuti oleh 32 anggota Kelompok Tani Tri Karya yang diketuai oleh Teguh Purnomo serta 24 anggota Kelompok Tani Setia yang diketuai oleh Syaparudin.

Made melanjutkan mikoriza dapat meningkatkan status hara tanaman, meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kekeringan dan penyakit, serta kondisi tidak menguntungkan lainnya. Mikoriza diaplikasi ke media tanam dalam polybag pada tahap pembibitan.

Komentar