Pariwisata

Karya Tama, Areal Wisata yang Mengedukasi

Salah satu lokasi wisata di Karya Tama. (Foto:Lampost/Andhika)

GUNUNG SUGIH (Lampost.co)--Areal wisata karya Tama jadi oase masyarakat Bandarjaya yang setiap hari disuguhkan hiruk pikuk dan kemacetan jalan lintas Sumatera. 

Selain letaknya ditepi jalinsum dan tepat di tengah antara Kelurahan Bandarjaya, Terbanggibeaar dan Seputihjaya, Gunungsugih, di lahan seluas 5 ha itu tersedia beberapa wahana permainan untuk berbagai kalangan usia. Begitu menapak jalan masuk mata langsung dimanjakan dengan rimbunnya pepohonan dan aneka tanaman obat-obatan. Sesuai konsep saat didirikan areal wisata Karya Tama bukan hanya menyuguhkan hiburan dan permainan namun edukasi tantang tanaman obat-obatan sekaligus pengolahannya. 
Bety (30), pengelola Karya Tama mengatakan areal wisata ini usaha keluarga besar Dwinyo (alm) yang kini dikelola seluruh anaknya. "Selain berkonsep hiburan, dan wisata  namun ada edukasi pengobatan herbal dari aneka tanaman," jelas dia. "Untuk edukasi tanaman kami mematok perkelompok dimana seluruh bahan dan cara meracik sudah disiapkan," ujarnya. 
Panggung terbuka berkonsep lantai pasir langsung terlihat saat berjalan menuju pintu masuk areal wisata Tama terpadu. Panggung yang dikelilingi pepohonan rindang melingkar itu sangat asyik untuk menikmati live musik. 
Penataan berbagai wahana hiburan sangat memanjakan pengunjung sehingga tak terasa kaki melangkah menyusuri hampir semua areal. Hampir setiap hari libur jumlah pengunjung berasak dari daerah setempat atau luar wilayah cukup lumayan. Bahkan pengunjung luar daerah bisa mengisi perut kosongnya dengan berbagai menu makanan sedap di RM Yangti yang berada samping jalan masuk areal wisata. 
Dengan tiket masuk Rp10 ribu dan libur nasional Rp12 ribu, pengunjung  bisa memanjakan mata dan menyegarkan paru-paru dengan udara segar. Areal taman lalu lintas yang sejuk lantaran puluhan payung warna-warni bergantung menjadi pilihan anak-anak. Pengelola menyediakan kereta odong-odong melintasi trek lalu lintas yang ada. 
Puluhan burung merpati yang sangkarnya seperti menara berisi kokoh ditengah areal menambah semarak puluhan payung yang bergantung. 
Areal lorong cinta bagi kalangan remaja juga disiapkan untuk melepas kangen dan penat. Bola plastik warna-warni tergantung rapi sepanjang lorong cinta yang lebar sekitar 12 m dan panjang sekitar 300 m itu. 
Disebelahnya terdapat arena out Bond yang terpasang kokoh diantara batang besar puluhan pepohonan yang rimbun. Ada jembatan tali, jembatan kayu dan pondokan. 
Pondokan untuk mengabadikan momen kebersamaan atau suasana hati juga disediakan pengelola. Pondokan yang sengaja dibuat dengan panggung cukup tinggi itu berada di bagian atas cekungan areal. Sehingga membuat kita serasa diatasi bukit yang rimbun dan ditambah lagi dibawahnya terdapat aliran sungai kecil. 
Untuk anak-anak pengelola menyiapkan dua kolam renang kecil dan sejumlah papan seluncur. Hampir setiap hari libur puluhan anak-anak memilih arena itu. 
Areal lesehan malam hari dengan miniatur menara Eiffel menjadi daya tarik pengunjung yang ingin bersantai. Sambil menikmati udara malam dan menyaksikan kandaraan melintas ditemani menu berbagai makanan lesehan. 
Keberadaan areal wisata Karya Tama itu kerap menjadi komunitas dan kelompok masyarakat yang menggelar kegiatan. Bahkan Pramuka berbagai tingkatan seperti penegak, penggalang dan penegak kerap berkemah di sana. 
Komunitas pecinta burung berkicau juga sering menggelar lomba sekaligus ajang silaturrahmi diareak wisata Karya Tama itu. Luasnya areal dan penataan yang rapih tak mengganggu berbagai kalangan masyarakat yang berkunjung. 
"Selama ini walau ada kegiatan komunitas tertentu kami tetap bisa melayani pengunjung lainnya. Saat ini baru separuh lahan yang sudah ditata," ujar Bety. "Kedepan kami akan menambah areal dan wahana permainan lainnya," jelasnya.

Komentar