Opini

Jangan Mengibliskan Malaikat!

Ilustrasi (Foto: Dok/Google Images)

KETIKA mata hati buta, kita sulit membedakan mana malaikat dan mana iblis. Kadang kita memalaikatkan iblis, apalagi jika iblis itu menggunakan jubah malaikat. Kadang juga kita mengibliskan malaikat, apalagi jika malaikat itu meminjam jubah iblis. Hal itu bisa terjadi ke semua orang, tidak terkecuali ulama, habib, atau kiai. Semakin tinggi derajat keimanan seseorang, semakin tinggi pula kualitas godaan iblis.

Suatu riwayat menceritakan bahwa Nabi Musa di dalam mimpinya diminta Tuhan untuk mencari hamba kesayangan-Nya yang meninggal dan mayatnya belum diurus. Ia juga diperlihatkan gambaran alamat kekasih Tuhan itu di sebuah dusun yang agak jauh dari kota perkampungan.



Keesokan harinya, Nabi Musa mendatangi tempat itu untuk mencari mayat kekasih Tuhan yang belum terurus. Dari rumah ke rumah, ia bertanya perihal mayat tersebut, tetapi tidak seorang pun yang tahu. Dalam suasana putus asa, Nabi Musa kembali ke kotanya. Di tengah perjalanan, ia bertemu tetua di dusun itu. Nabi Musa kembali menanyakan perihal mayat kekasih Tuhan yang belum dikebumikan.

Pak Tua itu juga mengaku tidak tahu kalau ada orang saleh meninggal dan mengatakan, "Aku adalah penduduk paling tua di dusun ini, pasti aku tahu kalau ada yang meninggal, apalagi orang baik seperti yang Anda ceritakan. Memang kemarin ada orang yang meninggal, tetapi kebalikan sifat-sifat yang Anda ceritakan. Ia sumber keonaran dan suka mengambil barang-barang orang. Kini mayatnya masih terbaring di pinggir dusun sana. Tidak ada yang mengurusnya lantaran tercitrakan sebagai orang jahat."

Malaikat Berjubah Iblis

Nabi Musa bersama Pak Tua kemudian datang ke tempat mayat yang disebutkan. Ternyata mayat yang dianggap kekasih Tuhan itu si tukang onar, yang suka mengambil barang orang. Pak Tua dan Nabi Musa bingung. Namun, Nabi Musa memastikan bahwa wajah orang yang meninggal ini tidak salah. Persis yang diperlihatkan Tuhan dalam mimpinya.

Nabi Musa penasaran. Setelah memakamkan mayat itu, ia berusaha mencari tahu siapa sesungguhnya orang yang dianggap hamba kesayangan Tuhan dalam mimpinya itu. Pada akhirnya, ditemukan seseorang yang mengenal dekat almarhum dan di situ ia membeberkan rahasia sahabatnya. Sesungguhnya, almarhum yang menjalankan misi rahasia itu ialah orang baik.

Penguasa di dusun itu sangat zalim dan kejam. Masyarakat juga sangat egois. Yang kaya semakin kaya dan miskin dibiarkan semakin miskin. Banyak sekali warga yang hidupnya terancam karena kehabisan makanan, kedinginan karena tidak punya selimut, kehujanan karena tidak punya tempat berteduh, dan dibiarkan sakit tanpa ada usaha memberinya obat-obatan.

Almarhum selalu membantu untuk menyambung hidup mereka meskipun dengan cara mengambil sebagian harta orang-orang kaya yang pelit untuk disalurkan kepada mereka. Bertahun-tahun ia melakukan usaha itu meskipun risiko yang amat berbahaya dan mengancam jiwanya.

Ia melihat satu-satunya cara membantu mereka yang hidupnya terancam dengan cara memindahkan sebagian harta orang kaya kepada mereka yang betul-betul amat membutuhkannya. Almarhum mengambil barang-barang orang kaya sama sekali bukan untuk kepentingan dirinya.

Kisah ini mencontohkan adanya sebuah kenyataan malaikat berjubah iblis. Ini kebalikan seperti dalam artikel sebelumnya, bahwa ada juga orang yang seperti iblis berjubah malaikat. Pelajaran penting bagi kita, jangan kita terkecoh dengan penampilan fisik atau jangan terlalu cepat memvonis orang lain itu iblis. Mana tahu di mata Tuhan dia adalah malaikat. Kita juga diminta untuk menampilkan sejujurnya diri kita sebagai apa adanya.

Merawat Mata Batin

Kedua kisah yang dicontohkan bukanlah yang paling ideal untuk kita lakukan. Agama kita menganjurkan untuk menampilkan diri sebagai manusia ideal, satunya kata dengan perbuatan, dan satunya penampilan dengan isi hati, sehingga orang lain tidak gampang terkecoh. Hidup dengan apa adanya akan menjanjikan ketenangan hidup daripada menampilkan kemunafikan.

Pelajaran berharga dapat dipetik dari riwayat ini, jangan mengibliskan malaikat, seperti warga masyarakat tadi yang menganggap pemuda luhur itu sebagai iblis. Ternyata, di balik perbuatannya yang berisiko, ada keluhuran niat dan tujuan yang secara konsisten dilakukan. Mari kita merawat penglihatan batin kita agar kita bisa selamat di dalam menjalani kehidupan ini.

 

Komentar