Lampung

Hakim Sebut Lima Terdakwa Pemburu Harimau Sumatera Melanggar Banyak Pasal

Suasana persidangan kasus perburuan liar harimau Sumatera. (Lampost.co/Febi Herumanika)

BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Pelanggaran yang dilakukan 5 terdakwa penjual kulit serta organ tubuh harimau Sumatera di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) dinilai hakim cukup berat, karena perbuatan kelima orang ini secara keseluruhan memenuhi unsur mulai dari menangkap, membunuh, kemudian menjual.

"Menangkap saja sudah melanggar undang-undang. Banyak sekali undang-undang yang dikenakan kepada mereka ini, karena mereka ini banyak sekali perbuatannya mulai dari menangkap, membunuh, dan menjual organ-organ tubuh satwa yang dilindungi ini," kata Hakim Anggota Syamsudin di Pengadilan Negeri Tanjungkarang, Selasa (28/8/2018).



M. Husin, saksi ahli dari BKSDA di persidangan mengatakan satwa yang ada di taman nasional secara keseluruhan dilindungi jika tidak dilindungi maka akan punah. "Dimanapun tempatnya, satwa yang ada didalam kawasan itu dilindungi, yang kedua dalam kategorinya hampir punah seperti harimau ini sangat dilindungi sekalipun hanya menangkapnya," kata Husin.

Saksi ahli ini menyebut perbuatan terdakwa ini menyalahi karena alasan ada banyak pas yang dilanggar. "Pasalnya ada yang menangkap, membunuh dan menjualbelikan, karena pembunuhan yang dilakukan kelompok satwa ini, manusia merasa dendam. Hal ini lah yang menyebabkan terjadi konflik satwa yang sekarang sering terjadi," kata saksi ahli.

Lima terdakwa perdagangan kulit harimau Sumatera Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) didakwa Jaksa Penuntut Umum dengan Pasal 21 dan 40 UU Nomor 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya hewan yang dilindungi. Kelimanya terdakwa yakni Sugiyanto, Untung, Saripudin, Poniman, dan Ahmad Irvan.

Komentar