Opini

Empat Pilar Kebangsaan sebagai Spirit Ketahanan Nasional

Ilustrasi (Foto: Dok/Google Images)

INDONESIA merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Secara geografis, posisi Indonesia membentang di antara benua Asia dan Australia, serta terhampar dalam cakupan Samudera Indonesia dan Samudera Pasifik. Pada posisi geografis itu negara Indonesia berdiri, baik secara de facto maupun de jure. Secara de facto, dalam bentangan wilayah itu ada masyarakat yang terikat dalam kesamaan ideologis, kesamaan bahasa, dan adat istiadat. Secara de jure, sejak 17 Agustus 1945, Indonesia memproklamasikan diri sebagai negara yang merdeka.

Dalam kaitan dengan relasi antarbangsa, selalu berada dalam dua pola: kerja sama dan kompetisi. Untuk mengamankan kepentingan nasionalnya, tiap negara berusaha memaksimalkan dua pola tersebut. Indonesia selalu berupaya menjalin kerja sama dengan negara-negara dalam kawasan maupun kerja sama global. Namun, secara bersamaan, Indonesia dalam kondisi berkompetisi dengan negara-negara lain, baik di bidang ekonomi, politik, sosial, maupun militer.



Kondisi geografis tersebut meletakkan Indonesia sebagai negara yang memiliki posisi tawar yang strategis. Secara geopolitik dalam relasi antarbangsa, Indonesia dinilai memiliki bargaining power yang tidak dapat dipandang sebelah mata.

Dampak Teknologi Informasi

Di era globalisasi dengan penopang utama teknologi informasi, batas-batas negara semakin kabur dan informasi dapat masuk tanpa batas. Perkembangan teknologi informasi itu akan berdampak secara ideologi, politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Hal itu dapat dilihat dari anak muda Indonesia yang menguasai informasi secara global, tetapi lupa pada sejarah bangsanya. Apa yang terjadi pada generasi muda ini perlu dicermati. Bila dibiarkan, dikhawatirkan nasionalisme mereka akan meluntur.

Saling pengaruh akan membawa dampak pada perkembangan lingkungan strategis. Hal itu akan diikuti perubahan persepsi akan ancaman terhadap kedaulatan negara. Semua itu perlu pencermatan dan pada titik tertentu perlu disikapi secara tepat, bijak, dan terukur.

Perkembangan teknologi informasi juga melahirkan sistem perang modern. Peperangan tersebut bukan hanya menggunakan kekuatan senjata, dengan spektrum yang luas meliputi demografis, sumber daya alam, ideologi, politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Peperangan model ini sering disebut asymmetric warfare. Apa yang terjadi di negara-negara Arab bisa dijadikan contoh dari pola peperangan asymetric warfare. Pada asymetric warfare, sering digunakan proxy war, yaitu perang terselubung dengan menggunakan pihak lain untuk menghancurkan negara yang dianggap musuh.

Untuk memperkuat ketahanan nasional di era global ini, penguasaan dan pemanfaatan teknologi harus diupayakan semaksimal mungkin. Ketahanan nasional seharusnya menjadi fokus perhatian mahasiswa. Mahasiswa harus merasa terpanggil untuk memperkuat ketahanan nasional dalam mengantisipasi ancaman asymmetric warfare dan proxy war.

Parag Khanna dalam buku Connectography: Mapping the Future of Global Civilization menyebutkan sudah terjadi pergeseran liberalisme baru dari Barat menuju alternatif Jalur Sutra Baru. Jalur Sutra Baru itu dibangun tiga kekuatan poros dunia, yaitu Asia Tengah, Tiongkok, dan India. Ketiganya membentuk connectography.

Menurut Khanna, liberalisme Julur Sutra berpandangan ideologi besar dunia yang sudah berjalan berabad-abad sudah tidak relevan, bahkan sudah mati. Dalam Jalan Sutra, koneksitas ekonomi menggantikan peran ideologi dan politik. Koneksitas ekonomi berlangsung secara global tidak lagi antarnegara, melainkan dilakukan kota-kota besar dan korporasi, dengan jaringan-jaringan seperti rel kereta api, kabel, pipa, serta jaringan rantai suplai bisnis dan industri.

Menyimpulkan pandangan Khanna, Aji Dedi Mulawarman menyebutkan Renaissance memiliki tiga pola, yaitu connectivity, devolution, dan tug of war. (1) Konektivitas merangsek ke kota-kota besar sebagai zona ekonomi khusus di seluruh dunia yang terkoneksi melalui jalan kereta api, pipa, kabel internet, dan simbol-simbol lain dari jaringan global peradaban; (2) Devolusi negara menuju agregasi provinsi bahkan kota, serta kompetisi segala sesuatu berbasis global supply chain yang mengarah pada aktivitas ekonomi-bisnis-industri lintas batas negara; (3) Kompetisi geopolitis berevolusi dari perang berdasar teritori menjadi konektivitas, berbasis rantai suplay global, pasar energi, produksi industrial, keuangan, teknologi, knowledge, dan talenta. Ketiganya, kemudian berorientasi pada megacities yang akan menjadi the new economic geography dan SEZs di dunia sebagai the new nodes.

Konsep Astagatra

Kita menyadari bangsa Indonesia dihadapkan pada berbagai tantangan. Hal itu terlibat dalam isu-isu global seperti terorisme, cybercrime, human trafficking, trans-national crime, drug trafficking, dan maritime security. Melihat perkembangan global tersebut, perlu dilakukan upaya-upaya untuk memperkuat kemandirian bangsa. Kemandirian tersebut meliputi penguasaan dan pemanfaatan teknologi informasi di berbagai bidang. Agar dapat memperkuat kemandirian bangsa, perlu fokus pada revitalisasi fondasi berbangsa dan bernegara.

Pada berbagai isu global itu, negara bukan satu-satunya pihak yang bertanggung jawab, karena isu-isu tersebut menyangkut individu-individu. Keterlibatan semua pihak, termasuk mahasiswa dalam ketahanan nasional, sesuai dengan UU No. 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara yang mengatakan sistem pertahanan negara Indonesia adalah sistem pertahanan bersifat semesta yang melibatkan seluruh warga negara, wilayah, dan sumber daya nasional lainnya.

Ketahanan nasional telah terumuskan dalam astagatra. Astagatra merupakan gabungan dari trigatra yang meliputi geografis, demografis, kekayaan alam, dan pancagatra yang meliputi ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, serta pertahanan keamanan. Para ahli menyebut konsep astagatra mampu menangkal asymmetric warfare dan proxy war.

Sesuai dengan kondisi dan tantangan zamannya, astagatra perlu disesuaikan dengan perkembangan global dan kemajuan teknologi informasi. Khusus terkait dengan pancagatra, upaya-upaya serius perlu dilakukan untuk memperkuat ideologi negara agar tidak mudah diinfiltrasi ideologi-ideologi asing yang tak sesuai dengan kepribadian bangsa, baik ideologi dari Barat maupun Timur.

Secara politik, dengan sistem demokrasi yang diterapkan di Indonesia, perlu dilakukan upaya agar politik yang dijalankan dapat mempersatukan, memajukan, dan menyejahterakan rakyat. Jangan sampai politik digunakan untuk mengadu domba dan memecah belah kesatuan bangsa!

Di bidang ekonomi, dalam prinsip kolektivisme yang diterapkan di Indonesia, seperti yang disampaikan Moh Hatta, ekonomi kerakyatan berbasis gotong royong dalam bentuk koperasi harus diterapkan konsekuen untuk membendung liberalisme, kapitalisme, dan individualisme secara ekonomi. Di bidang sosial-budaya, penguatan jati diri bangsa dilakukan dengan memperteguh kearifan lokal. Budaya baru yang lebih baik bisa dielaborasi untuk kemajuan. Namun, budaya yang tak sesuai dengan adat kita perlu difilter.

Di bidang pertahanan keamanan, Indonesia sejak lama memiliki konsep pertahanan semesta. Sejak zaman kerajaan-kerajaan Nusantara, sudah berkembang prinsip persatuan antara pemerintah dan rakyat, persatuan antara manusia dan lingkungannya. Dalam filosofi bangsa Indonesia yang kemudian dirumuskan dalam Pancasila, manusia menyatu dengan semesta sebagai sebuah fenomena kehidupan. Relasi antarindividu dikemas dalam bentuk gotong royong dan relasi rakyat dan pemerintah dikemas dalam bentuk integralistik atau kolektivisme.

Spirit Ketahanan Nasional

Fondasi bangsa Indonesia terumuskan dalam empat pilar: Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika. Keempat pilar itu penting karena menjadi perekat bangsa. Runtuhnya satu pilar akan berdampak pada runtuhnya pilar yang lain. Jika Pancasila diganti, NKRI akan terpecah-belah. Bila terpecah, UUD 1945 sudah tidak berlaku lagi. Sebab itu, penguatan empat pilar berbangsa menjadi tugas yang mahapenting.

Pancasila merupakan falsafah negara, yang bersumber dari akar budaya bangsa. Pancasila sudah hidup ratusan tahun pada setiap suku bangsa di Nusantara sebagai pandangan hidup bangsa. Sebagai pandangan hidup, Pancasila merupakan gagasan dan praktik sehari-hari bangsa Indonesia.

Kelima sila dari Pancasila para founding fathers dicantumkan dalam Pembukaan UUD 1945 agar falsafah bangsa itu memiliki kekuatan hukum tertinggi. Karena itu, Pancasila dan UUD 1945 merupakan satu-kesatuan yang menunjukkan karakter, prinsip, dan tujuan bangsa Indonesia.

Menurut Notonagoro, sila-sila dalam Pancasila merupakan satu-kesatuan. Ketuhanan menjiwai seluruh sila-sila yang lain. “Ketuhanan Yang Maha Esa adalah meliputi dan menjiwai sila-sila kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”

Pancasila sebagai filsafat bangsa Indonesia merupakan satu-kesatuan yang tidak terpisahkan. Pancasila merupakan proses berkelanjutan dari sikap, karakter, dan perilaku manusia Indonesia. Hanya dengan bertuhan, manusia akan mampu berakal budi, bersikap adil, dan berperilaku bermartabat. Hanya manusia-manusia yang adil dan bermartabat yang memiliki kesadaran untuk bersatu dalam sebuah persatuan. Dalam masyarakat yang sudah bersatu, akan dipilih orang-orang yang memiliki hikmah kebijaksanaan untuk mewakili masyarakat, mencapai tujuan ideal, yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Karena Pancasila telah ada sejak berabad-abad dan menjadi pandangan hidup suku-suku bangsa Indonesia, antara pandangan hidup dan suku bangsa tak bisa dipisahkan. Sebab itu, founding fathers memilih negara Indonesia yang akan didirikan ialah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Semua suku bangsa yang memiliki pandangan hidup seperti yang tercantum dalam sila-sila Pancasila adalah bangsa Indonesia yang secara politik hidup dalam NKRI.

Persatuan dan kesatuan itu merupakan bentuk kemanunggalan atau penyatuan yang tak terpisahkan. Penyatuan itu didasari persamaan darah (keturunan) dan daerah (geografis). Sebab itu, Ir Soekarno merumuskan bentuk penyatuan itu sebagai Bhinneka Tunggal Ika. Kalimat yang diambil dari kitab Sutasoma karya Mpu Tantular.

Dengan landasan empat pilar kebangsaan, mahasiswa harus berada di barisan terdepan untuk mempertahankan Indonesia dari semua ancaman, tantangan, dan hambatan baik yang bersifat fisik maupun nonfisik. Isu-isu global perlu dicermati agar tak mengganggu kedaulatan NKRI. Dan, semua paham yang tak sesuai dengan Pancasila harus ditepis dan tak bisa diikuti!

Komentar