Tajuk Lampung Post

Elok Mengelola Limbah

Para pemulung mengais barang bekas atau sampah yang masih dapat dimanfaatkan. (Dok/Lampost.co)

SAMPAH atau limbah menjadi persoalan pelik terutama bagi masyarakat perkotaan, termasuk di Bandar Lampung. Setiap hari produksi limbah industri dan rumah tangga kian bertambah.

Kecepatan peningkatan volume limbah tidak sebanding dengan kecepatan pengurangannya. Alhasil, sampah di lokasi tempat pembuangan akhir (TPA) makin menggunung dan menjadi bom waktu. Contohnya seperti persoalan TPA Bakung di wilayah Telukbetung. Lokasi pembuangan limbah untuk masyarakat Bandar Lampung dan sekitarnya itu memunculkan persoalan baru.



Akibat amburadulnya manajemen pengelolaan sampah, penampungan limbah cair dan tinja mengalami kebocoran, hingga menimbulkan bau tidak sedap serta mulai mencemari sumber air tanah di wilayah sekitar.

Keluhan pun terlontar. Warga di Kelurahan Bakung, Kecamatan Telukbetung Barat, mengeluhkan keberadaan TPA Bakung karena menimbulkan berbagai penyakit. Apalagi jika turun hujan, limbah tinja akan meluap ke permukiman warga di bawah TPA. Persoalan itu harus segera diatasi karena pencemaran limbah ke sumber air akan memberikan dampak negatif bagi kesehatan masyarakat.

Perusahaan Daerah Kebersihan Bandar Lampung selaku pengelola TPA Bakung terlihat seperti angkat tangan terhadap persoalan tersebut. Alasannya klasik, perusahaan itu belum bisa bertindak apa pun karena keterbatasan anggaran. Upaya pengajuan anggaran ke Pemerintah Pusat telah dilakukan untuk merenovasi kolam limbah cair. Sambil menunggu anggaran dari pusat turun, alangkah baiknya sejak sekarang segera disiapkan manajemen pengolahan dan pengelolaan sampah secara tepat.

Sebetulnya, ada teknologi jitu yang bisa diterapkan dalam mengelola sampah hingga ramah lingkungan dan memberikan keuntungan bagi manusia. Di negara maju, seperti Jepang, misalnya, limbah cair atau tinja, bisa diolah menjadi pupuk dan biogas yang bernilai ekonomi tinggi. Air hasil pengolahan limbah pun menjadi jernih dan bisa menghidupi ikan-ikan serta makhluk air lainnya.

Tidak ada salahnya kita mencontoh teknologi mengolah dan mengelola limbah ini dari negara-negara maju ketimbang hanya menghamburkan banyak uang, tetapi tidak memberikan imbal balik bagi kemaslahatan umum. Atau tidak perlu jauh-jauh hingga ke Negeri Sakura. Di Bantargebang, Bekasi, pun pengelolaan sampahnya sudah baik dan boleh diacungi jempol. Dulu, sampah di Bantargebang kerap menjadi masalah rutin yang tak pernah habis.

Dengan teknologi dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi mampu membuat lokasi pembuangan sampah untuk wilayah DKI dan sekitarnya itu menjadi areal yang asri, seperti lokasi wisata alam elok nan apik serta penghasil pupuk kompos dalam jumlah besar.

Hukum keseimbangan alam memang berlaku. Perlakuan buruk akan berbuah buruk dan perlakuan baik akan membuahkan kebaikan pula. Imbal balik lingkungan terhadap respons yang diterimanya terus berlaku hingga bumi ini menua. Oleh karena itu, dibutuhkan manajemen yang elok serta tepat saat berkaitan dengan lingkungan, termasuk dalam pengelolaan limbah.

Komentar