Lampung

Disperindang Lamsel Monitoring Kelangkaan Tabung Gas di Palas

Kepala Disperindang Lamsel, Qorinilwan bersama penyuluh pertanian lapangan (PPL) saat melakukan monitoring penggunaan tabung gas elpiji ukuran 3 kg di areal sawah Desa Bandanhurip, Kecamatan Palas, Rabu (5/9/2018). (Lampost.co/Armansyah)

KALIANDA (Lampost.co) -- Pemkab Lampung Selatan, melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Lamsel melakukan monitoring tabung gas elpiji ukuran 3 kg disejumlah Kecamatan Palas. Monitoring tersebut untuk memantau kelangkaan tabung gas melon dalam beberapa hari terakhir.

Kepala Disperindang Lamsel, Qorinilwan mengatakan pihaknya sengaja turun langsung untuk memantau kondisi terakhir permasalahan kelangkaan tabung gas elpiji bersubsidi, khususnya di Kecamatan Palas. Adapun monitoring itu nyasar ke sejumlah pangkalan, pengecer dan persawahan.



"Dari hasil penelusuran kami, masih ada beberapa desa yang masih sulit mendapatkan tabung gas elpiji. Meski demikian, untuk harga kami pantau saat ini sudah turun mencapai harga Rp23 ribu - Rp24 ribu per tabung. Kalau beberapa hari memang mencapai Rp30 ribu per tabung di tingkat pengecer," kata dia, di Desa Palasjaya. Rabu (5/9/2018).

Menurut Qorinilwan, jika mereka menemukan pangkalan yang menjual tabung gas elpiji ukuran 3 kg diatas Harga Eceran Tertinggi (HET), maka pihaknya akan memberikan peringatan langsung dan disampaikan ke Hiswana Migas Lampung.

"Nanti biar Hiswana Migas yang memberikan surat teguran kepada pangkalan kalau ada yang nakal atau menaikan harga," katanya.

Qorinilwan menambahkan pihaknya juga menemukan pemakaian tabung gas elpiji ukuran 3 kg yang tidak tepat sasaran, seperti adanya petani menggunakan tabung gas elpiji sebagai bahan bakar mesin sedot air.

"Dari beberapa pengakuan petani yang menggunakan bahan bakar tabung gas elpiji, karena untuk efisiensi biaya mereka dalam mengairi lahan mereka disaat musim kemarau," kata dia.

Dia mengatakan luas laham pertanian di Kecamatan Palas mencapai 7.000 hektare dalam satu musim. Dimana, dari analisa mereka sebanyak 60-70 persen petani menggunakan bahan bakar solar. Sedangkan, 30 persen petani menggunakan bahan bakar tabung gas elpiji.

"Dari luas 7.000 Ha itu diambil 30 persen itu berarti ada 2.333 ha yang menggunakan tabung gas elpiji. Dari luasan itu katakanlah paling banyak 24 tabung dalam sebulan. Jadi, perkiraan kami pemakaian tabung gas elpiji untuk mengairi lahan mencapai 55.992 tabung selama bulan Agustus. Jelas, kelangkaan ini karena banyaknya permintaan," ujarnya.

Komentar