Nuansa

Demam Irama Gambus

Ilustrasi (Foto: Dok/Youtube)

Maulana ya maulana, Ya sami' duana

Maulana ya maulana, Ya sami' duana....



LIRIK lagu berirama khas Timur Tengah itu tentu tidak asing lagi di telinga. Di tempat-tempat umum, lagu itu kerap diperdengarkan. Bahkan, di saluran YouTube, lagu-lagu Sabyan Gambus menjadi trending topic dengan jumlah penonton jutaan hingga ratusan juta pasang mata.

Lagu-lagu Sabyan Gambus seperti Deen Assalam, Ya Habibal Qolbi, Ya Maulana, Ya Asyiqol, Rahman Ya Rahman, Ya Jamalu, Qomarun, Ya Nabi Salam Alaika, dan Ahmad Ya Habibi merajai telinga-telinga penggemarnya.

Siapa yang pernah mengira musik gambus ternyata bisa merebut hati pendengarnya. Tiba-tiba saja, demam irama musik gambus melanda berbagai kalangan, terutama anak-anak mulai dari balita hingga remaja kuliahan. Lewat suara merdu Nissa dari grup musik Sabyan Gambus, masyarakat mencintai genre musik yang dulu kurang populer itu.

"Kalau musik seperti ini didengar di zaman Bunda sekolah, dijamin enggak bakalan laku, deh! Anak-anak zaman Bunda mah senangnya musik pop. Grup musiknya yang ngetop tu Dewa 19, Sheila on Seven, KLA, Gigi," ujar ibu menjelang usia 40 tahun itu pada anak-anaknya, di sela sayup-sayup suara vokalis Sabyan Gambus Khoirunissa, atau lebih dikenal Nissa “Sabyan”, yang tengah mengisi suatu acara.

Si ibu rela mendatangi acara itu, berjejal dengan ratusan bahkan mungkin ribuan manusia untuk memenuhi permintaan putrinya yang masih berusia sembilan tahun. Sebagai manusia yang terlahir sebagai generasi X dan menjalani masa remaja di era millennial, memang musik gambus tidak akrab di masa mudanya. Musik gambus hanya digemari ibu-ibu pengajian dan kelompok-kelompok tertentu, tapi tidak dengan para remaja. Pernah ada penyanyi musik sejenis, Sulis dan Hadad Alwi, tapi tidak booming seperti Sabyan.

Maka, dia pun heran ketika datang ke lokasi acara, yang berjubel datang justru anak-anak remaja. Tak pernah tebersit di bayangannya kalau di era mudanya anak-anak seusia itu rela berdesakan demi melihat grup gambus favoritnya. "Pasti dibilang norak kalau zaman Bunda muda dulu demennya musik gambus," ujarnya berkelakar.

"Nah, itulah kenapa katanya orang-orang beda generasi itu enggak bisa memahami selang satu generasi di bawahnya," jawab putranya yang berusia 13 tahun.

Yah, semoga saja Sabyan Gambus bisa membawa pesan-pesan moral yang baik melalui lagu-lagu keislamannya pada remaja saat ini. Sehingga, bukan sekadar musiknya yang menghipnosis telinga pendengar, melainkan juga lirik-lirik lagu yang menggetarkan hati untuk semakin mendekatkan diri pada Sang Pencipta.

Komentar