Nuansa

Daftar Para Pemberani

Ilustrasi (Foto: Dok/Google Images)

SETELAH melalui serangkaian proses sejak pendaftaran hingga verifikasi data pencalonan, kemarin KPU mengumumkan daftar calon sementara (DCS) Pileg 2019.

Pada tahapan ini, masyarakat diminta memberikan tanggapan atas nama calon legislatif tersebut kepada KPU sebelum ditetapkan sebagai caleg pada September 2018. Dari ratusan nama yang tertera di DCS, ada calon petahana, ada nama yang sudah dikenal di masyarakat, dan banyak pula pendatang baru.



Ada juga di antara nama tersebut sebelumnya berkiprah di partai politik lain sebelum masuk ke parpol baru. Sejumlah kalangan menyebut mereka sebagai kader lompat pagar dan sebagian lain menjuluki kutu loncat. Tetapi, sebenarnya sebutan itu kurang cocok jika dikaitkan dengan kapasitas seseorang. Bukankah ada ujaran lama yang menyebut “politisi sejati tak pernah mati”?

Politisi sejati memang tak pernah mati. Tubuhnya boleh mati, tapi tidak dengan gagasan, pemikiran, sistem rekrutmen konstituen, cara bermasyarakat, cara berpidato, bahkan hingga tata cara berbusananya. Tidak penting benar dari parpol mana politikus itu berasal.

Sejatinya, parpol hanya berfungsi sebagai alat perjuangan untuk mencapai tujuan. How to get the power. Justru di situlah seni berpolitik. Pemilu sebelumnya maju dari parpol A, pemilu sekarang berkompetisi melalui parpol B, dan mungkin pemilu berikutnya tampil bersaing di partai C. Sudah pasti para politikus yang berpindah partai tersebut memiliki hitung-hitungan sendiri. Minimal, mereka sudah memiliki modal paling penting, yaitu punya basis massa konstituen yang jelas.

Tidak sekadar pindah parpol, politikus yang merasa tidak cocok dengan konfigurasi parpol peserta pemilu bahkan dapat membangun partai baru untuk bertarung di ajang pemilu berikutnya. Semua itu sah-sah saja selama memenuhi seluruh persyaratan yang diamanatkan UU Pemilu.

Jika ingin melihat para pemberani, bacalah satu per satu nama-nama yang tercantum dalam DCS itu. Mereka telah memutuskan untuk tampil langsung di arena politik praktis, bukan sekadar berteriak-teriak dari pinggir lapangan.

Barangkali hanya sedikit yang memahami, jauh-jauh hari sebelum DCS diumumkan, mereka lebih dulu mempelajari seluruh regulasi pemilu. Berikutnya, berjuang mendapat nomor urut yang layak di daerah pemilihan di sekitar tempat mereka berdomisili. Kemudian dilanjutkan dengan membentuk tim kecil untuk mendata semua mata pilih dan bersosialisasi intensif di daerah pemilihan (DP) masing-masing.

Tidak banyak yang tahu pula, ada caleg yang sangat hafal peta wilayah di DP masing-masing sampai ke gang-gang kecil. Mereka juga mengenal nama-nama anggota keluarga calon pemilih potensial berikut jumlah mata pilih di keluarga tersebut.

Para simpatisan parpol boleh berkampanye lewat berbagai media, tetapi para caleglah yang terjun langsung merangkul pemilih di DP masing-masing. Pemenangnya adalah caleg yang paling rajin menemui langsung konstituennya. Tidak semua orang sanggup menjalani kerja politik seperti mereka.

 

Komentar