Kriminal

Cinta Ditolak, Buruh di Lampura Perkosa Lalu Bunuh Gadis Belia

Pelaku saat menunjukkan lokasi korban dikubur. Foto. Dok. Polsek Sungkai Selatan

KOTA BUMI (Lampost.co) -- Reserse Kepolisian Sektor (Polsek) Sungkai Selatan, Polres Lampung Utara, menangkap Wagiran (35), tersangka yang diduga melakukan pembunuhan dan pesetubuhan terhadap anak di bawah umur serta pencurian, Jumat (7/12) sekitar pukul 01.00.

Korbannya adalah DS (16). Diketahui korban selama ini  tinggal bersama pamannya, Nuryasin, di Dusun Bangunsari, Desa Labuhanratu Pasar, Kecamatan Sungkai Selatan, Lampung Utara. 



Kapolres Lampung Utara AKBP Budiman Sulaksono, melalui Kapolsek Sungkai Selatan AKP. Yaya Karyadi, mengatakan, petugas telah berhasil mengungkap kasus Pembunuhan, berdasarkan Laporan Polisi Nomor: LP/100/ XII/ 2018/PLD LPG/ RES LU /SEK KAI SEL, tanggal 05 Des 2018.

Peristiwa yang tergolong kejam dan sadis itu terjadi di lebung, areal perkebunan tebu, PTPN VII, Rayon 1 Apdeling 3 petak 086, Desa Negara Tulang Bawang, Kecamatan Bunga Mayang, Kabupaten Lampung Utara, pada Minggu (30/9/2018), sekitar pukul 15.00.

Berdasarkan hasil penyelidikan sementara terungkap, pada Minggu (30/9) sekitar pukul 15.00, tersangka Wagiran, seorang buruh warga, Dusun Purwodadi, Desa Gedung Ketapang, Sungkai Selatan, Lampung Utara, menjemput korban dari rumah pamannya. Tersangka beralasan akan membawa dan mengantarkan korban untuk bekerja sebagai penjaga toko di Bunga Mayang. Dengan mengunakan sepeda motor Honda Beat Pop warna putih, tanpa nomor polisi, keduanya menuju Bunga Mayang.

"Di dalam Perjalanan tersangka mengutarakan cintanya kepada korban, namun korban menolaknya," ujar kapolsek dalam rilis yang diterima Lampost.co, Sabtu (8/12/2018).

Lalu, tersangka membawa korban berputar-putar, ke arah Bunga Mayang hingga sekitar pukul 17.00. Ditengah perjalanan, tersangka kembali menyatakan Cintanya, namun lagi lagi, korban menolaknya, dan korban minta diantar pulang. Mendengar permintaan itu, tersangka mengajak korban, tetapi bukan mengantar pulang melainkan menuju perkebunan tebu Dusun Umbul Semarang, Desa Negara Tulangbawang.

Lagi lagi dalam perjalanan itu, Wagiran menyatakan cintanya kepada korban, namun tetap ditolak dengan alasan korban telah memiliki cowok yang ganteng dan menolak cinta Wagiran karena dianggap hitam dan jelek. 

Kemudian sesampainya di areal Perkebunan tebu tersebut, yang di sekitarnya terdapat aliran air (lebung), Wagiran mematikan mesin sepada motor dan menyetandarkannya. Wagiran lalu turun dari motor menuju arah belakang motor, yang mana saat itu korban masih ada di atas motor, kemudian Wagiran memeluk korban dari belakang dan membanting hingga korban terjatuh.

Korban sempat melakukan perlawanan, namun Wagiran mencekik leher korban mengunakan kedua tangannya hingga korban tidak berdaya. Wagiran lalu membuka celana luar dan celana dalam korban yang sudah tidak berdaya itu kemudian memerkosanya.

Setelah melampiaskan hasratnya, Wagiran kembali mencekik leher korban hingga gadis belia itu tidak bernafas lagi.

"Setelah korban tidak bergerak lagi, tersangka membawanya ke areal perkebunan tebu menggunakan sepeda motor. Setelah menggali lubang dengan kayu, tersangka menguburkan korban dan menutupi lubang itu menggunakan tanah berpasir lalu ditutupi daun pisang," tambahnya.

Kemudian tersangka, mengambil tas pakaian, sepatu dan ponsel merk Xiomi milik korban. Sedangkan tas dan pakaian korban disembunyikan oleh tersangka ke dalam sumur tua.

"Polisi menyita barang bukti  satu unit sepeda motor Honda Beat Pop warna putih tanpa nomor polisi, satu buah tas Jinjing warna hitam, satu pasang sepatu warna hitam, satu potong kayu Jambu batu panjang sekitar 50 CM, dan sebuah ponsel merk Xiomi milik korban," ungkapnya.

Perbuatan tersangka dapat dijerat Pasal 340, KUHPidana dan Jo 338, KUHPidana dan Pasal 365 KUHPidana, dan Pasal 81 ayat 2 ayat (1) ayat (2), dan atau pasal 82 ayat (2) UU RI No. 35 Tahun 2014 atas perubahan UU RI No. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan anak.

Komentar