Nuansa

Bukan Pakaian

Ilustrasi (Foto: Dok/Google Images)

PAKAIAN memang menunjukkan penggunanya, akan digunakan untuk apa. Misalnya, pakaian salat yang digunakan untuk salat dengan sejumlah syarat, yakni menutup aurat agar sah salatnya. Namun, ada juga pakaian yang diharuskan lembaga tertentu, misalkan rompi warna oranye bagi tangkapan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

"Wah, Nem, dang sampai kham makai kawai juk kheno. Sudahlah warnanya mencolok, senyum pun sulit," kata Kacung dalam sebuah diskusi dengan Inem sembari membawa koran di halaman belakang rumah majikan mereka.



"Walah, Bang, kok cita-citamu jelek amat. Wis nyerempet-nyerempet KPK," sergah Inem di tengah pembicaraan Kacung dan Kacung pun terkesiap. "Amit-amit jabang bayi, Bang, ojo nganti!" lanjut Inem.

"Lo, Nem, siapa yang bercita-cita? Orang minta jauhkan. Lebih baik itu pakaian gamis saat salat atau seragam hansip warna hijau waktu bertugas," ujar Kacung. "Biarkan pejabat dan kolega kayanya yang bisa merasakan rompi oranye itu, karena mereka terjebak nafsunya."

Kacung pun berdiri dan langsung berlagak seolah guru kepada Inem. "Begini, Nem, semakin tinggi gaya yang diperlihatkan ke publik tanpa niat tulus, semakin mudah tergoda nafsu," Kacung berujar. "Lihat saja, di waktu-waktu sebelumnya mereka tampak bersemangat untuk berlaku di jalan kebenaran. Memakai pakaian yang menurutnya mencirikan orang baik, tampak dermawan, tampak dekat orang baik," cerocos Kacung.

"Tapi, tiba-tiba godaan datang. Dengan nafsu, dilupakannya perilaku yang ditampakkan baiknya. Maka, KPK pun bergerak dan tangkap!" Kacung meloncat, membuat Inem kaget hendak lari. "Eh, Nem, mengapi niku tegakh," kata Kacung.

"Lah, Abang mau apa, kok pake loncat? Sangka saya ada majikan, mulakno aku yo melayu to," ungkap Inem.

Kacung pun tertawa dan berujar. "Nah, inilah, Nem, yang namanya menampakkan sesuatu dengan perilaku, membuat orang bereaksi."

Inem bertanya, "Maksudnya apa, Bang?"

"Begini, Nem, makanya boleh saja orang berpakaian apa pun karena itu pakaiannya. Dan, berlaku seperti apa pun karena badannya. Namun, semua harus dengan niat yang baik, bukan riya," ujar Kacung. "Jadi, hasilnya juga baik."

"Iya, Bang, ojo pamer to. Tapi, kalau saya apa yang mau dipamerkan, Bang," kata Inem. Dijawab langsung Kacung, "La, itu kamu baru pamer bahwa tidak ada yang bisa dipamerkan."

"Yang jelas niat, penampakan, dan karakter orang itu bukan karena pakaiannya. Terbukti, orang berompi oranye pun belum tentu berniat tampak dan berkarakter jelek, to?" kata Kacung. Astagfirullah...

 

Komentar