Ekonomi dan Bisnis

BI akan Terus Intervensi Sampai Tekanan Rupiah Mereda

Logo Bank Indonesia.

JAKARTA (Lampost.co)--Bank Indonesia terus melakukan intervensi untuk menyetabilkan nilai tukar rupiah. Pada Selasa (4/9) kemarin Bank Indonesia telah masuk di pasar valas dengan membeli SBN sebesar Rp1,8 triliun.

Rinciannya, intervensi di pasar SBN sebesar Rp3 triliun pada Kamis (30/8), Rp4,1 triliun pada Jumat (31/8), Rp3 triliun pada Senin (3/9), Rp1,8 triliun pada selasa (4/9).



Pengamat Ekonomi Eric Sugandi, Kamis (6/9/2018), mengatakan Bank Indonesia memang perlu melakukan intervensi di pasar valas selama tekanan dari faktor eksternal masih kuat, sambil memberikan kesempatan bagi pemerintah untuk menurunkan current account deficit.

Tanpa intervensi BI, rupiah bisa cepat tergelincir. Walau turun, cadangan devisa masih cukup banyak. Jika cadangan devisa dirasa kurang, Indonesia juga punya akses sebesar US$ 22,76 miliar ke dana Multilateralized Chiang Mai Initiative.

Selain melakukan intervensi di pasar valas dengan menjual USD, saya perkirakan BI akan menaikkan lagi suku bunga kebijakan BI 7 day Reverse Repo Rate rate 25-50 bps bulan ini.

Idealnya, kata Eric sekitar 50bps, jika ingin rupiah cukup kuat bertahan dari tekanan eksternal. Bila hanya 25bps mungkin dianggap belum cukup oleh para pelaku pasar finansial.

“Tapi kita lihat dulu apakah menjelang RDG Bank Indonesia, tekanan terhadap rupiah sedikit mereda. Makanya saat ini saya masih bilang 25-50bps,” ujarnya.

Intervensi BI pun tidak bisa ditentukan secara pasti akan berlangsung sampai kapan. Tapi setidaknya sampai pertemuan The Fed (FOMC) terakhir tahun 2018 pada tanggal 18-19 Desember, para pelaku pasar finansial global menunggu apakah suku bunga acuan AS benar-benar akan naik dua kali lagi.

Sampai saat itu tekanan terhadap rupiah karena faktor sentimen tetap ada, walau timbul tenggelam. Tahun depan Fed Fund Rate mungkin naik lagi, dan rupiah mungkin bisa tertekan lagi jika CAD masih besar.

Komentar