Tumbai

Behuma, Cara Berkebun Orang Lampung (2)

Behuma cara berkebun orang Lampung. (Ilustrasi)

SEPANJANG proses penanaman hingga perawatan tanaman lada dilakukan proses pengecekan pada setiap tanaman secara berkala. Apabila ada bibit tanaman lada yang mati, segera dilakukan penyulaman yaitu menanam kembali tanaman lada pada Januari.

Dalam proses behuma lada secara konvensional ini tidak ada proses perawatan hama, hanya saja kebun lada harus bersih dari gulma dengan cara di-jukuk dan pembersihan dengan cara meranting atau merapikan ranting-ranting pohon agar tidak lembap.



Selain itu, petani biasanya membuat rorax atau reruk berupa lubang di antara batang-batang lada yaitu sekira 10 meter untuk mengurangi kelembapan tanah saat musim hujan dan saat musim kemarau digunakan sebagai tempat pembakaran sampah tanaman dan daun lada (nuruk).

Setiap setahun sekali dilakukan kegiatan munggom. Munggom atau meranting adalah proses membersihkan ranting-ranting pada pohon cekering krui dan randu yang menjadi inang tempat merambatnya lada.

Jika batang lada tidak menempel pada kayu, batang tanaman yang atas dipotong agar tumbuh tunas yang banyak dengan harapan semakin banyak tunas baru yang menempel.

Biasanya sesuai perkiraan atau perhitungan pada sekitar November—Januari akan muncul candik lada atau nyandik (bakal buah lada). Lalu, akan dilakukan mutil atau panen pada Juli—Agustus. Tanda buah lada siap panen adalah buah lada telah mulai menguning kemerahan.

Saat panen dimulai terlebih dahulu diawali dengan istilah ngelandap yaitu memetik buah di bagian bawah tanpa menggunakan tangga. Sebagaimana ciri khas masyarakat adat yang komunalistik, gotong royong, dan kekeluargaan, panen lada tersebut biasanya dilakukan dengan proses sakai sambayan, yaitu gotong royong masyarakat dalam umbul atau tiyuh sekitar huma sehingga proses panen raya dapat diselesaikan dengan cepat dan penuh rasa kekeluargaan. Dahulu, proses panen lada atau mutil lada di huma lazim dilakukan muli-mekhanai secara bersama-sama. Namun, saat ini muli-mekhanai Lampung sudah sangat jarang sekali melakukan aktivitas tersebut. Mutil lada saat ini lebih banyak dilakukan pekerja atau petani yang diupah atau dengan sistem bagi hasil dengan pemilik huma.

Setelah panen selesai dan terkumpul, dilakukan proses penggilasan menggunakan penggilas yang terbuat dari anyaman bambu berdiameter 0,5 cm dengan ukuran 2 X 2 meter. Kemudian, dibuatkan tiang penyangga setinggi 1,25 meter. Selesai penggilasan, lada dijemur di bawah terik matahari menggunakan sulan dari bahan tikai atau rumbai.

Selanjutnya, lada diampar dengan ketebalan 1—2 cm, dibolak-balik menggunakan alat yang disebut pengayar. Penjemuran dilakukan sampai kering dengan tanda-tanda biji lada menghitam, saat digigit pecah dan berbunyi “kratas”.

Penggilasan dan penjemuran ini beriringan dengan pemetikan buah lada (mutil lada) bagian atas dengan menggunakan anak tangga yang terbuat dari kayu dan bambu dan telah disiapkan sekitar satu bulan sebelum panen dilaksanakan.

Komentar