Feature

Astra Lahirkan Permata Hijau dari Perkebunan Karet

Astra poles SMPN 1 Tanjungsari, menjadi sekolah berprestasi di bidang peduli kebersihan lingkungan. (Foto : Delima Napitupulu)

RINDANG dan sejuk. Suasana itulah yang menyapa tiap pengunjung sekolah bernuansa hijau itu. Memasuki komplek sekolah, rumput gajah terhampar bak permadani hijau terbentang luas.

Jalan menuju sekolah itu berupa setapak dipagari pohon palem setinggi 3 meter. Di sela-sela palem, ada pohon pucuk merah yang dibentuk membulat menjadi aksesori alami nan memikat.



Taman sekolah terbagi dua area. Pengunjung yang ingin masuk ke area taman bisa memijak pada bulatan yang menyerupai batang pohon. Tujuannya agar rumput tidak rusak terinjak.

Pohon mangga, kelengkeng, jeruk BW, pepaya gading, kelapa gading hingga kopi cokelat, tumbuh subur di kedua area taman. Di depan kelas, ada pula berbagai pohon rimbun nan asri.

Sebut saja ketapang, kerai payung, sengon, dan mahkota dewa. Tidak kurang dari 50 pohon besar dan 40 pohon hias yang menjadi penanda sekolah tersebut berwawasan lingkungan.

Istimewanya, meski dihiasi rerimbunan pepohonan, sekolah itu nampak bersih. Tidak ada sampah berceceran di sana. Bahkan sampah dedaunan sekalipun nyaris luput dari pandangan.

Suasana sedemikian rapi dan asri umumnya hanya ditemui di sekolah elit yang memiliki banyak petugas kebersihan. Namun, nyatanya di sekolah ini hanya ada dua petugas kebersihan.

Kunci kerapihan dan kebersihan itu ada pada penghuni sekolah terutama seluruh siswanya. Setiap kelas mendapat giliran piket umum membersihkan lingkungan sekolah dari noda sampah.

Berkat kecintaannya pada kebersihan dan keasrian lingkungan, sekolah yang berada di pinggiran Kabupaten Lampung Selatan itu mampu memancarkan kilaunya hingga panggung nasional.

SMPN 1 Tanjungsari, Lampung Selatan, sang peraih ISO 9001:2015 itu berada di tengah kebun karet. Sekolah terakreditasi A BAN-S/M itu berjarak 80 km dari pusat pemerintahan kabupaten.

Namun lokasi yang terpencil ternyata tidak lantas membuat satuan pendidikan itu melempem. Sekolah itu mampu menjelma menjadi permata hijau di balik rerimbunan pohon karet.

Berkat tangan dingin PT Astra International Tbk melalui Yayasan Pendidikan Astra – Michael D Ruslim (YPA-MDR), SMPN 1 Tanjungsari sukses membukukan prestasi lokal hingga nasional.

Salah satu torehan prestasi nasional yang mereka raih ialah penghargaan Sekolah Adiwiyata Nasional 2013 ditandatangani Mendikbud M Nuh dan Menteri LH Balthasar Kambuaya.

"SMP 1 diakui sebagai sekolah peduli dan berbudaya lingkungan," kata Kepala SMPN 1 Tanjungsari Kaolan, saat media gathering di sekolah setempat, baru-baru ini.

Penghargaan nasional tersebut memacu SMPN 1 untuk meningkatkan kapasitas dengan meraih grade tertinggi sebagai sekolah peduli dan berbudaya lingkungan yaitu Adiwiyata Mandiri.

Berkat dukungan Astra, lanjut Kaolan, sekolah dengan 735 siswa itu kini memiliki empat sekolah binaan yakni SDN 2 Kertosari, SDN 3 Kertosari, SDN 1 Triharjo, dan SDN 1 Mulyosari.

Keempatnya juga sekolah binaan Astra. "Syarat untuk adiwiyata mandiri minimal punya tiga binaan, kami memiliki empat," ujar Kaolan.

Bentuk dukungan Astra adalah mendatangkan konsultan lingkungan dari pusat, Yayasan Semut Merah. Selain itu, Astra membantu sarana prasarana pendukung ramah lingkungan.

"Pihak Astra membantu untuk mempercantik hutan sekolah, lengkap dengan taman bermain yang dilengkapi rumah panggung hingga flying fox," tutur Kaolan. Bahkan, dalam waktu dekat Astra akan membangun tempat pengolahan pupuk kompos permanen.

Sejak menjadi binaan pada 2012, lanjutnya, Astra memberi bantuan berbagai bentuk yakni peningkatan kompetensi guru, renovasi gedung, pembangunan perpustakaan, pengadaan buku dan bahan ajar lainnya, alat pertanian, hingga alat musik. "Pembinaan bukan hanya fisik tapi juga kompetensi dan karakter seluruh warga sekolah," klaim Kaolan.

Pihaknya optimistis dapat meraih Adiwiyata Mandiri Agustus mendatang. Penghargaan itu akan menambah panjang koleksi prestasi SMPN 1 seperti juara 2 nasional tata kelola BOS 2016, juara 3 LSS-IKS provinsi 2016, wakil Lampung di OSN nasional 2016, dan juara 1 daiah provinsi 2017. "Alumni kami yang mewakili Lampung di OSN nasional kini diterima di kelas akselerasi SMAN favorit di Bandar Lampung," ujarnya sambil tersenyum.

Sekretaris (YPA-MDR), Kristanto mengaku sengaja memilih SMPN 1 sebagai sekolah binaan karena berada di daerah prasejahtera. "IPM daerah ini rendah, karena itu kami bertekad meningkatan mutu pendidikan dengan mencetak SDM berkualitas," kata dia.

CSR Astra menyasar 3 T dengan indikator di antaranya angka harapan hidup, harapan sekolah, dan income per kapita. YPA-MDR memberikan pembinaan untuk mencapai standar mutu pendidikan hingga menjadi sekolah unggul. "Sejak dibina pada 2012, SMPN 1 kini berpredikat sekolah unggul dari badan akresitasi nasional," ujar Kristanto.

Hasil pembinaan tersebut sesuai dengan Astra's key performance index. Model pembinaannya adalah sekolah eskalator. Di Lampung, Astra mendonasikan Rp52,3 miliar untuk 10 SD dan 2 SMP binaan sejak 2010 hingga 2017. "Kami mendorong sekolah unggul agar berdampak pada kesejahteraan masyarakat menuju pride of nation," tutur dia.

Menanggapi hal itu, anggota komite SMPN 1 Tanjungsari, Sehato, mengapresiasi program binaan YPA-MDR. Menurut dia, keberhasilan tersebut mengharumkan nama Lampung di kancah nasional. "Bukan sekadar fisik, bantuan Astra menyentuh hingga karakter sehingga warga sekolah semakin disiplin dan selalu optimistis," kata dia.

Pada kesempatan itu Sehato mengutarakan harapannya kepada YPA-MDR untuk memberikan pelatihan teknologi bagi komite dan guru demi mewujudkan Tanjungsari sebagai daerah agrowisata. "Daerah ini potensial sebagai penghasil jeruk BW," ujarnya. Dengan perwujudan tersebut, maka program binaan YPA-MDR berdampak semakin luas menjangkau mata pencaharian warga Tanjungsari

Komentar