Feature

Askha Jaya Memberdayakan Anak Daerah, Menyemai Pengusaha Muda

TUNJUKKAN PRODUK. Pemilik outlet keripik pisang Askha Jaya, Askasifi Eka Cesario menunjukkan produk dalam kemasan paper bag di Jalan Pagar Alam, Gang PU, Bandar Lampung, Jumat (28/6). n LAMPUNG POST/DELIMA NATALIA NAPITUPULU

BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- AROMA getah pisang menyeruak dari dapur produksi keripik pisang di bilangan Kalianda, Lampung Selatan. Di tempat itu ada belasan perempuan paruh baya sibuk mencuci, menyerut, hingga menggoreng pisang. Kegiatan yang diselingi canda tawa itu dilakoni dengan cekatan. Di pojok dapur, sederet tandan pisang kepok yang masih hijau berjejer menunggu giliran diolah.

Dapur produksi di Kalianda itu adalah yang pertama. Dapur produksi kedua ada di Pringsewu. Keduanya sudah berdiri sejak 2014, pekerjanya adalah warga sekitar yang kurang mampu. Sebagian besar ibu rumah tangga.



Dengan 15 pekerja di Kalianda dan 10 orang di Pringsewu, dapur produksi menghasilkan keripik pisang orisinal 2 ton per bulan. "Alhamdulillah, saya bisa bekerja di sini. Hasilnya bisa menambah pendapatan suami untuk sekolah anak," kata Yati (38), salah satu pekerja di dapur Kalianda, Jumat (28/6). Sambil mengangkat pisang dari penggorengan, ibu dua anak itu mengaku suaminya hanya bekerja serabutan. Ia dan pekerja lain sebelumnya hanya ibu rumah tangga tanpa penghasilan. Lowongan kerja yang dibuka outlet keripik pisang Askha Jaya telah membuka kesempatan mereka menjadi lebih produktif. "Kami sangat terbantu. Upahnya bisa untuk membayar pendaftaran anak saya masuk ke SMA tahun ini," ujarnya.

Pemilik outlet keripik pisang Askha Jaya, Askasifi Eka Cesario, menuturkan usaha yang dibuka sejak 2009 itu sengaja menyasar warga kurang mampu sebagai tenaga kerja. "Bukan untuk mengejar laba semata, usaha ini juga harus memberi kemaslahatan masyarakat. Terutama yang pra sejahtera," tutur Aska di outletnya di Jalan Pagar Alam, Gang PU, Bandar Lampung.

Ia mengisahkan proses panjang menjaring pekerja di Kalianda dan Pringsewu. Permintaan pelanggan yang semakin tinggi mendorong Aska menggandeng mitra memproduksi keripik pisang orisinal. Penjaringan dilakukan dengan cermat. "Saya pilih Kalianda dan Pringsewu yang tidak terlalu jauh dari outlet utama di Bandar Lampung," ujarnya.

Berangkat dari nol saat merintis usaha, Aska bertekad menjaring pekerja dari kalangan tidak mampu. Pilihannya jatuh pada sekelompok ibu rumah tangga yang kurang produktif dengan kehidupan pas-pasan

"Bermodal kepercayaan, saya mulai menjelaskan tentang cara kerja dan target yang harus dipenuhi," ujar alumni Universitas Lampung itu. Ia mengaku cukup sulit memperkenalkan standar Askha Jaya kepada pekerja barunya saat itu. Mulai dari pemilihan bahan baku hingga penggorengan. Setiap proses memengaruhi hasil akhir keripik. Sambil menjaga stabilitas pemasaran, Aska juga harus membagi perhatian untuk pekerja di daerah. "Trial-error berlangsung selama kurang lebih dua bulan pendampingan. Sampai akhirnya produk memenuhi standar," kata dia.

Dengan pasokan dari 2 dapur produksi, Askha Jaya membuka cabang ke-4 dan 5. Seluruh cabang sengaja dibuka di sepanjang jalur Gang PU yang menjadi sentra oleh-oleh keripik pisang Lampung. Semua cabang menjajakan 15 varian rasa. Beberapa yang paling dicari pembeli yakni cokelat, susu, keju, green tea, sapi panggang, dan telur asin.

Di belakang outlet, ada dapur yang tempat membubuhi berbagai rasa pada keripik orisinal. "Keripik orisinal dari Kalianda dan Pringsewu dibawa ke sini untuk diberi rasa. Selanjutnya baru dikemas," kata Aska.

Selain memberdayakan ibu rumah tangga, Askha Jaya merekrut lulusan SMA untuk melayani pembeli di lima cabang. Yang diutamakan adalah anak muda tulang punggung keluarganya. Sebanyak 30 orang anak muda baik dari sekitar maupun luar Bandar Lampung, kini jadi tim penjualan. 

Lahirkan Pengusaha Baru

Di era digital, Aska menyadari penjualan secara offline di outlet tidak akan memberi hasil optimal. Dibantu beberapa tenaga admin, ia mengelola media sosial Twitter, Facebook, dan Instagram untuk menembus pasar nasional bahkan global.

Produk terbaik dan inovasi terbaru menghiasi halaman media sosialnya. Ditambah dengan ujaran khas anak muda yang renyah, jumlah followernya terus bertambah. "Medsos bukan cuma menambah pelanggan, tetapi juga melahirkan reseller di berbagai daerah," ujarnya. Tercatat sekitar 250 orang reseller Askha Jaya yang aktif memesan keripik untuk dijual kembali.

Permintaan pelanggan dan reseller luar kota yang dikirim setiap bulan berkisar 200 kg--500 kg. "Reseller saya semuanya anak muda. Dan mereka sangat kreatif dalam memasarkan produk," kata Aska.

Demi menjaga semangat penjualan reseller, ia terus memutar otak untuk menghasilkan rasa dan varian baru. Telur asin adalah rasa teranyar yang diluncurkan. Inovasi tersebut sukses menggelitik rasa penasaran follower medsos, berikut para reseller. Hal itu terbukti dari permintaan keripik telor asin rata-rata 50 kg tiap minggu. "Meski belum mengungguli rasa cokelat yang membukukan penjualan 300 kg per minggu, namun rasa terbaru itu bak angin sejuk yang mengembuskan udara segar," kata dia.

Sebagai pengusaha, Aska terus mengikuti tren dan hal-hal yang akan populer. Riset kecil dengan mengadakan polling melalui media sosial adalah salah satu strateginya. Aska menyebutkan rasa tertentu yang akan diluncurkan. Ia meminta komentar para follower mengenai rencana itu.

"Riset itu harus agar produk sesuai minat pasar," kata Aska. Dengan upaya itu, para reseller telah memasarkan keripik Askha Jaya hingga ke sejumlah negara di Asia dan Eropa. Upaya itu bagian dari perluasan bisnis sekaligus membantu pemerintah mencetak pengusaha baru. 

Aska mengakui kemajuan bisnisnya ditopang oleh penyelenggara logistik yang mampu menjangkau daerah terdalam. "JNE satu-satunya penyelenggara logistik yang mampu mengirim hingga titik tersulit, seperti Kalimantan Barat dan Timur," klaim Aska yang bermitra dengan JNE sejak 2013. Selain menjangkau hingga lokasi terjauh, lanjut dia, pelayanan JNE cepat dan barang tiba dalam kondisi yang baik. Ia juga mengapresiasi kemudahan pengecekan barang dan ongkos kirim melalui laman JNE. "Seperti JNE, Askha Jaya juga punya semangat untuk menjangkau seluruh daerah, termasuk yang terluar," ujarnya.

Komentar