Opini

Anjloknya Harga Kopi

Ilustrasi kopi. (Foto: Dok/Google Images)

HAMPIR semua produk pertanian mengalami masalah, terutama menyangkut harga. Salah satu penyebabnya karena sifat produk pertanian yang musiman. Pada saat musim, barang melimpah sehingga harga akan jatuh sesuai dengan hukum ekonomi.

Permintaan dan penawaran merupakan mekanisme pembentuk harga. Pertanian umumnya merupakan pertanian rakyat yang dikelola secara sederhana dan skala yang kecil. Produsennya banyak yang sekaligus menjadi penjual, sementara pembelinya sedikit. Dengan demikian, posisi pembeli lebih kuat dan menentukan harga, sedangkan petani cenderung sebagai penerima harga.



Komoditas perkebunan yang musiman juga sama. Bahkan, sebagian besar hasil perkebunan Lampung merupakan komoditas ekspor. Ekspor hasil perkebunan umumnya masih belum diolah; masih bersifat primer. Dengan demikian, harga komoditas perkebunan juga ditentukan pasar di luar negeri.

Ketika pasar di luar negeri lesu karena krisis ekonomi, harga beli komoditas perkebunan yang diekspor mengalami penurunan. Faktor lain adalah produksi di negara pesaing. Jika pada saat yang sama di negara pesaing mengalami panen juga, akan terjadi kelebihan ekspor secara global sehingga harga akan tertekan.

Ada kalanya harga membaik walau sesekali. Bisa karena produksi gagal di negara pesaing ataupun kurs rupiah (uang dalam negeri) mengalami pelemahan (penurunan) terhadap mata uang asing (utamanya dolar Amerika). Bisa juga harga naik karena gagal panen, tetapi hal ini tidak dapat dinikmati petani karena barangnya tidak ada.

Harga Kopi Lampung

Saat ini harga kopi Lampung cenderung anjlok, yang semula berkisar Rp25 ribu per kg menjadi sekitar Rp19 ribu per kg. Akibatnya, petani kesulitan karena pendapatan dari panen yang mereka andalkan untuk memenuhi kebutuhan hidup mengalami penurunan. Sementara sebagian besar petani tidak bisa menunda penjualan karena untuk memenuhi kebutuhannya bahkan ada yang sudah terutang.

Sudah ada sistem resi gudang (SRG) yang ditawarkan pemerintah untuk mengatasi anjloknya harga pada saat panen. Artinya, petani dapat menyimpan sementara kopinya digudang dan simpanan tersebut dapat diuangkan bahkan sampai 70%. Ketika harga kembali pulih setelah beberapa waktu dari panen, petani dapat menjual pada harga saat itu, sehingga penjualan petani dapat harga normal dan masalah kebutuhan tetap terpenuhi walau penjualan tertunda. Sayangnya, SRG belum berkembang sehingga tidak dapat diandalkan petani untuk mengatasi krisis harga pada saat panen atau kondisi tertentu.

Untuk menjaga harga agak sulit, terlalu banyak faktor yang berpengaruh baik langsung maupun tidak langsung. Ada pula faktor yang relatif tidak dapat dipengaruhi apalagi dikendalikan. Salah satu instrumennya adalah dengan memperpendek tata niaga kopi.

Misalnya, dengan langsung membangun kerja sama dengan eksportir. Walau tidak menjamin harga tidak berubah, setidaknya ada ancer-ancer dan jaminan harga. Hal ini membutuhkan kesepahaman yang dibangun atas saling percaya dan menguntungkan. Untuk itu, pemerintah daerah harus hadir dalam hal ini.

Harga juga dapat didorong membaik dengan meningkatkan permintaan. Caranya yaitu dengan meningkatkan konsumsi kopi per kapita. Saat ini konsumsi kopi per kapita kita masih termasuk rendah dibandingkan banyak negara. Kecenderungan saat ini dengan menjamurnya kafe yang menawarkan kopi atau gaya hidup ngopi merupakan momentum untuk menggairahkan konsumsi kopi.

Tantangannya justru citra kopi Lampung belum terangkat. Inilah masalah bersama yang harus kita lakukan, yaitu mem-branding kopi Lampung sehingga menjadi merek dagang yang membanggakan sehingga harganya naik kelas.

Konsumsi lainnya dapat dilakukan dengan mengkreasikannya dalam bentuk makanan. Misalnya, aneka makanan penutup (dessert) camilan lain dengan citarasa kopi. Selain harus diproduksi, juga dikemas dengan baik dan tak kalah penting adalah mem-branding-nya sehingga punya kelas. 

Kesejahteraan Petani Kopi

Faktor kunci bagi kesejahteraan petani kopi khususnya dan petani pada umumnya adalah produktivitas. Karena dengan harga sekitar Rp25 ribu per kg, bila produktivitas kopi 1 ton per hektare, petani akan memperoleh Rp25 juta setahun atau Rp2 juta per bulan. Sedangkan produktivitas kopi Lampung sekitar 0,7 ton per hektare atau Lampung Barat sekitar 0,9 ton.

Dengan kondisi demikian, kesejahteraan petani masih rendah. Artinya, setidaknya petani harus punya 2 hektare atau produktivitas kopi 2 ton per hektare. Dengan kondisi ini, kesejahteraan petani baik, karena batas kena zakat adalah sekitar Rp3,8 juta per bulan (jika harga emas Rp550 ribu per gram).

Karena itu, ketika harga kopi turun, akan sangat terasa tekanan terhadap kesejahteraan petani. Cara lain memperbaiki kesejahteraan petani kopi adalah dengan memberikan penghasilan tambahan. Pertanian terpadu adalah salah satu caranya. Misalnya, petani kopi dengan ternak kambing yang langsung berkaitan atau dengan menanam tanaman lain sehingga dapat menopang kebutuhan petani kopi.

Dengan kata lain, bisa juga yang mengurangi pengeluaran petani. Misalnya, kebutuhan telur dan sayuran serta daging ayam/ikan dipenuhi sendiri. Harus ada cara pandang baru dalam memaknai pertanian agar dapat meningkatkan kesejahteraan petani. Ayo bertani! 

Komentar