Generasi Emas

Ajarkan Anak Mengenali Lingkungan

Siswa dan guru TK Harapan Bunda Jagabaya III Way Halim, Bandar Lampung, berfoto bersama usai mengikuti kegiatan bermain dan belajar di halaman sekolah setempat, Selasa (19/12/2017). LAMPUNG POST/YUSMART DWI SAPUTRA

BANDAR LAMPUNG (lampost.co) -- Sebagaimana namanya taman kanak-kanak sudah seharusnya menjadi tempat yang selalu ingin dikunjungi anak untuk bermain dan bersenang-senang.
Bukan sebaliknya, menjadi tempat yang membosankan atau bahkan membuat anak tertekan, ketika berada di tempat tersebut.
Oleh karena itu, di Taman Kanak-kanak Harapan Bunda yang beralamat di Jalan Pulau Morotai No. 11, Kelurahan Jagabaya III, Way Halim, Bandar Lampung, para tenaga pendidiknya selalu mengutamakan untuk membimbing anak-anak untuk bermain. Melalui berbagai permainan yang telah dirancang diharapkan anak-anak juga mendapatkan berbagai pengetahuan baru.
Kepala TK Harapan Bunda Badriah mengatakan di sekolahnya anak-anak lebih ditekankan untuk mampu menyesuaikan diri dan mengenali lingkungannya. Dalam proses pendidikan, para guru tidak memaksakan anak untuk dapat membaca dan berhitung. Melalui berbagai kegiatan, siswa dibimbing untuk saling mengenal antarsiswa dan lingkungan di sekitar mereka, dengan penuh keceriaan sehingga pada masa keemasannya tidak terlewatkan.
“Kalau ada orang tua yang menitipkan anaknya di TK untuk dapat berhitung atau membaca kurang tepat rasanya, kendati sampai sekarang masih ada sejumlah orang tua yang menginginkan hal tersebut," kata Badriah, Selasa (19/12/2017).
Menurut Badriah, pendidikan anak usia dini berbeda dengan pendidikan formal. Pendidikan dini lebih menekankan anak supaya mampu menggali kecerdasan karakter mereka. Sementara karakter dan kecerdasan anak pada usia dini tidak semuanya sama, sehingga membutuhkan perlakuan khusus, bagi setiap anak.
Meskipun menurutnya, para guru dituntut untuk sudah mengenalkan pengetahuan dasar untuk anak membaca dan berhitung, tetapi hal tersebut dilakukan dengan cara bermain, dan tidak membebani anak.
Badriah menyebut sekolah yang berdiri sejak 1997 itu selalu menggunakan cara-cara menarik, dalam mengajak siswanya mengenal huruf dan angka, seperti melalui lagu-lagu yang diciptakan para guru, atau belajar dari kartu bergambar yang sudah disediakan, agar anak tetap ceria.
“Di sini sudah disiapkan semua alat peraga belajar yang berbentuk gambar dan angka. Tetapi sifatnya hanya mengenalkan saja kepada siswa secara rutin, dengan pola inilah lama-kelamaan anak akan benar-benar mengenalnya,” ujarnya.

Kekompakan Orang Tua



Tidak cukup jika sekadar dilakukan di lingkungan sekolah, menurut Badriah mendidik anak usia dini membutuhkan konsistensi sehingga memerlukan kekompakan dengan para orang tua. Karakter hingga pengetahuan baru yang diajarkan di sekolah perlu kembali diulang dan dibiasakan pada anak, saat berada di rumah.
Misalnya saat mengenalkan huruf dan angka, menurut Badriah, orang tua juga perlu melakukan pengulangan, dengan cara-cara yang digunakan para guru. Hal tersebut dilakukan untuk mempercepat proses pengingatan anak, sehingga anak akan siap memasuki jenjang pendidikan berikutnya.
“Tugas mendidik tidak hanya pada guru semata melainkan kerja sama dengan orang tua siswa. Kalau diluar sekolah juga diajarkan sesuatu yang bermanfaat bagi anak, mudah-mudahan ada saat akan memasuki sekolah formal, anak sudah benar-benar siap,” kata dia. 

Komentar