Nuansa

Air Minum di Gurun

Ilustrasi (Foto: Dok/Google Images)

DIKISAHKAN, seorang pria tersesat di gurun pasir. Setelah tahu tersesat, ia pun berupaya mencari jalan keluar dari gurun hingga tanpa terasa perbekalan air minumnya habis. Ia pun hampir mati kehausan. Akhirnya, ia tiba di sebuah rumah kosong. Di depan rumah tua tanpa jendela dan hampir roboh itu terdapat sebuah pompa air. 

Segeralah pria itu pun menuju pompa air dan mulai memompa sekuat tenaga. Meskipun sudah mengeluarkan segenap tenaga yang tersisa untuk memompa, tidak ada air setetes pun yang keluar dari keran pompa itu. Dalam keadaan lelah, tanpa sengaja pria itu melihat ada kendi kecil di sebelah pompa itu dengan mulutnya tertutup gabus dan tertempel kertas. Dengan rasa penasaran, pria itu mengambil kendi dan kemudian membaca tulisan dalam kertas tersebut.



Tulisan di kertas tersebut berbunyi, ”Sahabat, pompa ini harus dipancing dengan air dahulu. Setelah Anda mendapatkan airnya, mohon jangan lupa mengisi kendi ini lagi sebelum Anda pergi.”

Lalu pria itu mencabut gabus yang menyumbat kendi tersebut. Setelah terbuka, ternyata dia mendapati kendi itu berisi penuh air. Sejumlah pertanyaan berkecamuk dalam pikiran pria tersebut terkait keberadaan air dalam kendi dan tulisan yang ada pada kertas yang dia temukan tadi.

“Apakah air ini harus dipergunakan untuk memancing pompa? Bagaimana kalau tidak berhasil? Tidak ada air lagi.”

“Bukankah lebih aman saya minum airnya dahulu daripada nanti mati kehausan kalau ternyata pompanya tidak berfungsi? Untuk apa menuangkannya ke pompa karatan hanya karena instruksi di atas kertas kumal yang belum tentu benar?” begitu pikir pria tersebut.

Beruntung, dalam kebimbangan tersebut, suara hatinya mengatakan dia harus mencoba mengikuti nasihat yang tertera di kertas itu sekalipun hal itu berisiko. Ia menuangkan seluruh isi kendi itu ke dalam pompa yang karatan itu dan dengan sekuat tenaga kembali memompanya.

Benar saja, air kemudian keluar dengan melimpah. Pria itu lalu minum sepuasnya. Ia pun tidak lupa mengisi perbekalan air minumnya untuk di perjalanan mencari jalan keluar dari gurun tersebut.

Setelah istirahat memulihkan tenaga dan sebelum meninggalkan tempat itu, ia pun kembali mengisi kendi itu sampai penuh dan menutupkan kembali dengan gabus. Ia juga menambahkan beberapa kata di bawah instruksi pesan itu dalam kertas kumal yang sebelumnya ia temukan bersama kendi itu.

“Saya telah melakukannya dan berhasil. Engkau harus mengorbankan semuanya lebih dahulu sebelum bisa menerima kembali secara melimpah. Percayalah, inilah kebenaran hukum alam!”

 

 

 

 

 

 

 

Komentar