Opini

Agustus, Nasionalisme, dan Kemerdekaan

Ilustrasi (Foto: Dok/Google Images)

MAKIN hari, masyarakat kian sadar akan pentingnya politik dan kesadarannya dibarengi dengan pilihan politik secara tajam. Akan tetapi, apakah kesadaran itu diiringi dengan sikap nasionalisme yang tinggi? Suatu sikap asasi yang mendasari pola kebermaknaan sebagai warga negara dan bangsa Indonesia yang bebas dan merdeka. 

Di era adu domba dan menjamurnya hoaks seperti sekarang ini, kesadaran politik yang tajam sering tidak diiringi dengan sikap nasionalisme yang tinggi. Akibatnya, kita mudah bertengkar dan tidak mampu menunjukkan kesadaran yang kritis terhadap kebijakan instrumental pemerintah. Seringnya, orang mudah terjebak pada politik identitas dan menyerang lawan hanya karena sikap militansi berlebih-lebihan terhadap pilihan politik yang berbeda.



Sentimen membela bangsa dan negara lalu tidak lagi menjadi ideologi yang penting oleh segenap komponen anak-anak bangsa. Padahal, sikap nasionalisme membantu kita agar memiliki keyakinan dan harga diri yang lebih teguh terhadap bangsa lain di dunia ini.

Agustus, jika bulan ini merupakan momen yang paling tepat, adalah saat kita diharuskan untuk merenungkan kembali nilai perjuangan para pahlawan berupa nasionalisme dan patriotisme, yang dapat menjadi senjata ampuh melawan berbagai persoalan kebangsaan yang sedang kita hadapi.

Saat ini, kita membutuhkan nilai-nilai untuk meretas masa depan bangsa yang tampak silang sengkarut. Kita jangan sampai tenggelam dalam politik adu domba dan terbawa arus hoaks, yang akhirnya akan menjerumuskan kita lebih dalam lagi ke samudera tak bertepi. Dan, jangan sampai lupa bahwa politik seharusnya menyatukan, bukan memecah belah bangsa.

Bukan Ritual Simbolis

Di bulan Agustus ini, perayaan detik-detik proklamasi harus menjadi jembatan dan sebagai nilai untuk meretas masa depan itu. Bukan malah terbatas pada ritual simbolis belaka seperti memasang umbul-umbul, mengecat gapura, membuat pagar, membuat patung pahlawan, atau membuat pesta syukuran bersama seluruh warga kampung sebagaimana umumnya dilakukan.

Namun, setelah itu, tak lagi mendengar gema sama sekali tentang apa makna perayaan kemerdekaan yang selalu disambut hangat dan gegap gempita di seluruh penjuru Tanah Air. Apakah tradisi macam ini yang kita persembahkan untuk para pahlawan kita terdahulu? Bukankah para pejuang dulu telah membuka jalan bagi kita untuk membangun masa depan? Bukan malah asyik dengan euforia dan lupa akan kesejatian kemerdekaan.

Peringatan kemerdekaan kian hambar maknanya dan kurang memiliki daya gugah yang dapat meningkatkan nasionalisme kebangsaan. Riuh rendah hanya di permukaan, sementara nilai nasionalisme perjuangan para pahlawan hilang tak membekas. Jelas ini menjadi masalah serius di tengah konstelasi politik kebangsaan yang diwarnai dengan aneka peristiwa dan kegaduhan memilukan seperti maraknya (lagi-lagi) kasus korupsi, kekerasan, intoleransi agama, adu domba, dan berita bohong. Akibatnya, moralitas bangsa menjadi merosot dan nilai-nilai kebangsaan semakin memudar.

Ditambah, dalam pengertian lain, kita juga belum sepenuhnya merdeka. Banyak rakyat menderita kemiskinan, kelaparan, kebodohan, pengangguran, putus sekolah, dan gizi buruk. Begitu banyak anak-anak hidup dalam gemilang kemewahan dan serbacukup, tetapi banyak pula yang tidak mampu dan harus menanggung beban kemiskinan serta penderitaan. Ini menjadi potret setelah 73 tahun kemerdekaan, saat kesenjangan sosial kian menganga dan memprihatinkan.

Juga, rasa-rasanya kita masih dibayang-bayangi mental kolonial. Misalnya, suatu sikap yang lebih suka bergantung pada orang lain, entah dalam bentuk kapitalisme, atau mengandalkan utang ketimbang menjadi bangsa yang mandiri. Karena itu, kita perlu membangun kepercayaan diri dan jadikan kemandirian sebagai suatu keharusan, yang pada gilirannya akan membawa pada kemerdekaan Indonesia yang sesungguhnya.

Kepercayaan itu dapat dibangun, misalnya dengan membabat mental pagar makan tanaman. Mental yang merusak bangsa sendiri dan menggerogoti dari dalam. Kita tidak dapat terus membiarkan kerusakan moral bangsa ini makin memburuk. Paling tidak, harus benar-benar ada komitmen yang dapat membuat bangsa ini bebas dari korupsi dan masalah akut yang lainnya. Kita perlu mengembalikan hakikat kemerdekaan itu pada pemerdekaan lahir dan batin.

Hakikat Kemerdekaan

Hakikat kemerdekaan tak lain adalah suatu pembebasan dari hal-hal yang membelenggu. Dalam konteks kekinian, ada semacam kebutuhan yang amat mendesak bagi kita semua untuk membuat sebuah model baru menggelorakan semangat kemerdekaan sesuai dengan konteks yang nyata dan aktual. Kemerdekaan juga harus dilihat dalam konteks masa kini.

Dulu, Bung Karno pernah berkata, “Perjuanganku mudah karena mengusir penjajah, tetapi perjuanganmu akan lebih sulit karena menghadapi bangsa sendiri”. Kita perlu membuktikan kepada bung Karno bahwa kita mampu menjaga dan memimpin bangsa ini tanpa ada gesekan yang berlebih-lebihan, jangan sampai bangsa ini terbelah hanya karena pilihan politik, beda suku, atau bahkan hanya karena perbedaan agama.

Jika Indonesia saat ini ibarat kain yang robek, bulan Agustus ini kita jadikan momen untuk merajut, menyatukan, membenah diri, dan merenungkan kembali tentang apa tujuan para pahlawan terdahulu dalam berjuang memerdekakan Indonesia dari penjajahan. Dan, menjadi harapan kita semua agar nilai-nilai kemerdekaan tidak sekadar berhenti pada ritual simbolis. Masa depan Indonesia hanya bisa dibangun oleh kesungguhan dan dipikul secara bersama-sama. Lupakan perbedaan, satukan misi dan cita-cita!

Komentar